Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penambahan daftar saham dengan status high shareholding concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu perhatian pelaku pasar.
Analis menyebut, status tersebut tidak hanya berdampak terhadap saham-saham yang masuk daftar HSC, tetapi juga memengaruhi persepsi investor, terutama investor institusi asing.
Financial Educator Manager Hendry Wijaya mengatakan, status HSC membawa dampak langsung ke emiten terutama pada persepsi likuiditas dan tata kelola. Status HSC adalah penanda publik bahwa saham memiliki free float tipis, sehingga harganya rentan bergerak tajam karena likuiditas yang terbatas.
"Hal ini dapat memengaruhi penilaian analis dan fund manager atas profil likuiditas saham tersebut," kata Hendry di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: Ini Daftar 37 Saham Baru Masuk Kategori High Shareholding Concentration (HSC) BEI
Selain itu, status HSC juga berpotensi memengaruhi posisi saham dalam indeks global. Isu konsentrasi kepemilikan menjadi salah satu perhatian MSCI dalam evaluasi pasar Indonesia, sehingga saham dengan free float terbatas berpotensi mengalami penyesuaian bobot di indeks seperti MSCI maupun FTSE Russell.
Hendry menjelaskan, bagi investor institusi asing, khususnya pengelola dana pasif (passive fund), saham dengan status HSC cenderung kurang menarik. Pasalnya, keterbatasan free float menyulitkan investor melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga saham.
Meski begitu, kata Hendry, penerapan kerangka HSC justru dapat memberikan manfaat dalam jangka menengah. Dengan adanya klasifikasi tersebut, transparansi mengenai kondisi free float menjadi lebih baik sehingga membantu investor global memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik saham di Indonesia.
"Ringkasnya, HSC dapat menekan minat asing pada 51 emiten terdampak terutama passive fund dalam jangka pendek, tetapi memperkuat kredibilitas pasar secara agregat, serta menjadi prasyarat penting agar dana asing kembali masuk," ucapnya.
Sejumlah Risiko yang Perlu Diperhatikan
Hendry mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan sebelum berinvestasi pada saham berstatus HSC. Pertama, risiko likuiditas. Free float tipis membuat posisi besar lebih sulit dijual tanpa memengaruhi harga.
Kedua, risiko volatilitas. Harga bisa bergerak tajam naik atau turun dengan volume kecil. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi secara historis lebih rentan pada pergerakan harga yang tidak selalu mencerminkan fundamental.
Baca Juga: BEI akan Tambah 37 Saham HSC, Cek Daftar Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi
Ketiga, risiko tekanan jual struktural. Apabila MSCI/FTSE menyesuaikan bobot, dapat muncul tekanan jual dari passive fund. Investor yang masuk belakangan berisiko menghadapi tekanan tersebut.
Keempat, risiko valuasi. Menurut MSCI, keterbatasan transparansi kepemilikan dapat memengaruhi pembentukan harga yang wajar, sehingga harga pasar perlu digunakan secara lebih hati-hati sebagai acuan valuasi.
Kelima, risiko pengawasan lanjutan. BEI menegaskan faktor pemicu pengawasan lain tetap diterapkan secara insidental, sehingga saham HSC berpeluang lebih besar mendapat notasi khusus, pertanyaan UMA, atau tindakan pengawasan lain.
Baca Juga: BEI Tegaskan Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC) Tak Bisa Masuk LQ45 hingga IDX80
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














