Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan semakin banyak. Simak daftar saham di BEI yang selama ini sudah tergolong HSC,
BEI akan menambah 37 saham ke dalam daftar HS) setelah melakukan revisi metodologi penentuan status saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Dengan penambahan tersebut, total saham yang masuk dalam daftar HSC meningkat menjadi 51 emiten.
Perubahan metodologi tersebut dilakukan dengan menambahkan kriteria price-impact ratio untuk saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan, penyesuaian metodologi merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan atas reformasi pasar modal yang dilakukan bersama Self-Regulatory Organization (SRO).
"Kami telah melakukan revisi atas metodologi high shareholding concentration dengan menambahkan satu kriteria, yaitu price-impact ratio untuk seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun," ujar Jeffrey dalam konferensi pers, Selasa (14/7).
Baca Juga: Wall Street Menguat, Inflasi AS Melandai dan Laba Bank Besar Lampaui Ekspektasi
Menurut Jeffrey, saham dengan nilai price-impact ratio yang tinggi akan melalui proses penyaringan lebih lanjut untuk mengidentifikasi indikasi konsentrasi kepemilikan saham. Kriteria baru ini melengkapi faktor-faktor pemicu pengawasan yang sebelumnya telah diterapkan BEI.
Ia menjelaskan, price-impact ratio dihitung berdasarkan perubahan harga saham dibandingkan dengan velocity transaksi. Sementara itu, velocity transaksi diperoleh dari rata-rata volume perdagangan dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
Dengan kata lain, saham yang memiliki volume transaksi rendah dan mengalami perubahan harga yang signifikan berpotensi memiliki price-impact ratio yang tinggi.
"Saham yang aktivitas volume transaksinya rendah akan menghasilkan velocity yang rendah. Dengan perubahan harga yang besar, maka price-impact ratio menjadi tinggi," jelas Jeffrey.
BEI juga menetapkan evaluasi terhadap kriteria price-impact ratio dilakukan setiap tiga bulan. Jadwal evaluasi tersebut akan diselaraskan dengan peninjauan berkala terhadap indeks-indeks saham utama di Bursa Efek Indonesia.
Meski demikian, pengawasan terhadap saham tercatat tidak hanya mengacu pada evaluasi periodik tersebut. Faktor pemicu pengawasan lainnya tetap dapat diterapkan secara insidental terhadap seluruh saham yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia.
Tonton: GIIAS Jadi Momentum! Saham Otomotif Direkomendasikan Overweight
Dengan penerapan metodologi baru ini, sebanyak 37 saham tambahan akan segera diumumkan masuk ke dalam daftar HSC.
"Dengan kriteria baru tersebut, kami akan segera mengumumkan ada 37 saham baru masuk dalam kriteria high shareholding concentration sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration menjadi 51 saham," kata Jeffrey.
BEI menegaskan, revisi metodologi HSC merupakan bagian dari reformasi pasar modal yang terus dilakukan untuk menjaga kualitas perdagangan saham di Bursa.
"Ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kita lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur, wajar, dan efisien terus kita hadirkan di Bursa Efek," tutup Jeffrey.
Tonton: Bahlil Beberkan Rencana Solar Subsidi Rp15.000 per Liter untuk Nelayan
Daftar Saham HSC
Sebelumnya BEI mencatat ada 14 emiten tergolong HSC.
Berikut merupakan komposisi emiten yang sempat tercatat dalam evaluasi HSC pada awal Juli 2026 beserta tingkat konsentrasi kepemilikannya:
| Kode | Emiten | Konsentrasi Kepemilikan |
|---|---|---|
| AGII | PT Samator Indo Gas Tbk | 97,75% |
| SOTS | PT Satria Mega Kencana Tbk | 98,35% |
| IFSH | PT Ifishdeco Tbk | 99,77% |
| MGLV | PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | 95,94% |
| ROCK | PT Rockfields Properti Indonesia Tbk | 99,85% |
| RLCO | PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | 95,35% |
| DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% |
| BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 97,31% |
| WBSA | PT BSA Logistics Indonesia Tbk | 95,82% |
| TCPI | PT Transcoal Pacific Tbk | 94,10% |
| MGRO | PT Mahkota Group Tbk | 93,76% |
| SATU | PT Kota Satu Properti Tbk | 94,27% |
| HATM | PT Habco Trans Maritima Tbk | 96,09% |
| DGWG | PT Delta Giri Wacana Tbk | 97,35% |
Catatan: konsentrasi kepemilikan saham berdasarkan data 2 Juli 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














