kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.068   28,51   0,47%
  • KOMPAS100 793   4,43   0,56%
  • LQ45 602   2,62   0,44%
  • ISSI 210   0,41   0,20%
  • IDX30 340   1,48   0,44%
  • IDXHIDIV20 423   1,15   0,27%
  • IDX80 91   0,44   0,49%
  • IDXV30 115   -0,23   -0,20%
  • IDXQ30 109   0,46   0,43%

S&P Pertahankan Rating Indonesia, Mengapa Rupiah Tetap Tembus Rp 18.000?


Rabu, 15 Juli 2026 / 08:02 WIB
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Mengapa Rupiah Tetap Tembus Rp 18.000?
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah 44 poin (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil belum mampu mengangkat kepercayaan pasar terhadap aset domestik.

Meski didukung kenaikan cadangan devisa menjadi US$ 145,6 miliar pada Juni 2026 dari US$ 144,9 miliar pada Mei, rupiah justru terus tertekan hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS.

Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), rupiah berada di level Rp 18.091 per dolar AS, melemah sekitar 0,6% dalam sepekan.

Sejak awal tahun, mata uang Garuda telah terdepresiasi 7,79%, menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Baca Juga: S&P Pertahankan Rating BBB Indonesia, Rupiah dan Obligasi Berpeluang Menguat

Kondisi ini menunjukkan sentimen positif dari peringkat utang dan kuatnya cadangan devisa belum cukup mengimbangi kekhawatiran investor terhadap berbagai persoalan struktural di dalam negeri.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai melemahnya daya saing Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang memicu keluarnya modal asing.

Hal itu tercermin dari peringkat Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) yang turun dari posisi 40 pada 2025 menjadi peringkat 48 dari 70 negara pada 2026, setelah sempat berada di posisi 27 pada 2024.

Menurut Telisa, investor institusi kini lebih memilih menempatkan dana di negara-negara ASEAN lain seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

"Kredibilitas kebijakan Indonesia di antara negara ASEAN lain sangat rapuh," ujarnya, Selasa (14/7).

Ia menambahkan, kepercayaan investor juga tergerus oleh berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik serta komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai belum efektif.

Baca Juga: S&P Masih Soroti Kesehatan Fiskal Indonesia Meski Rating BBB Bertahan

Di sisi lain, pelemahan Indeks Kepercayaan Konsumen turut memperburuk sentimen terhadap perekonomian domestik.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor fundamental eksternal.

Defisit transaksi berjalan masih terbebani tingginya impor migas, sehingga kebutuhan valuta asing tumbuh lebih cepat dibandingkan penerimaan dari ekspor.

Selain itu, permintaan dolar AS meningkat seiring pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo dan repatriasi keuntungan perusahaan multinasional.

Pelaku pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit APBN akibat meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai belanja pemerintah.

"Tanpa perbaikan neraca valas secara struktural, intervensi Bank Indonesia melalui kenaikan BI-Rate dan cadangan devisa hanya mampu menahan pelemahan sementara," kata Rizal.

Baca Juga: Pasca Rating S&P Stabil, Purbaya Optimistis Arus Modal Masuk dan Rupiah Menguat

Rizal memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.600–Rp 18.300 per dolar AS hingga akhir tahun, dengan peluang ditutup pada rentang Rp 17.800–Rp 18.100.

Menurutnya, arah rupiah akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, pergerakan harga minyak, surplus perdagangan Indonesia, serta arus masuk modal asing.

Sebaliknya, tekanan dapat meningkat jika imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap tinggi dan kebutuhan pembiayaan fiskal terus membesar.

Di sisi global, inflasi konsumen Amerika Serikat yang melandai pada Juni 2026 dinilai belum cukup meredakan ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve, terutama di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Sejalan dengan itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memperkirakan level Rp 18.000 berpotensi menjadi titik keseimbangan baru bagi rupiah.

Ia memproyeksikan kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp 18.000–Rp 18.300 pada akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×