kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.798.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.795   38,00   0,21%
  • IDX 6.271   64,57   1,04%
  • KOMPAS100 831   10,80   1,32%
  • LQ45 634   2,98   0,47%
  • ISSI 221   3,19   1,46%
  • IDX30 361   0,40   0,11%
  • IDXHIDIV20 446   -1,28   -0,29%
  • IDX80 96   1,00   1,05%
  • IDXV30 123   -0,21   -0,17%
  • IDXQ30 116   -0,37   -0,32%

Saham Komoditas Anjlok Pasca Ekspor 1 Pintu: Ini Cara Cuan di Tengah Ketidakpastian


Selasa, 26 Mei 2026 / 08:24 WIB
Saham Komoditas Anjlok Pasca Ekspor 1 Pintu: Ini Cara Cuan di Tengah Ketidakpastian
ILUSTRASI. Saham Komoditas Anjlok Pasca Ekspor 1 Pintu: Ini Cara Cuan di Tengah Ketidakpastian


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana kebijakan satu pintu ekspor komoditas memukul harga saham perusahaan tambang batubara dan minyak kelapa sawit (CPO). Lalu, investor pemilik saham batubara dan CPO harus jual atau beli.

Pemerintah berencana menjalankan kebijakan tersebut melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Perusahaan ini menjadi BUMN yang akan menangani ekspor komoditas tertentu.

Harga saham sejumlah perusahaan tambang anjlok setelah rencana ini. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), salah satu pemilik bisnis tambang batubara di Indonesia, mengalami penurunan harga saham 9,72% selama lima hari perdagangan. Pada Senin 25 Mei 2026, harga saham ITMG Rp 22.525 susut Rp 2.425 selama lima hari terakhir.

Harga perusahaan batubara lain, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada Senin (25/5) Rp 2.300 turun 6,50% dalam lima hari terakhir.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai pelaku pasar tidak hanya memperhatikan tujuan akhir kebijakan, tetapi juga proses implementasi, waktu pelaksanaan, dan risiko yang mungkin muncul.

“Di sinilah sumber kecemasan investor muncul. Pengumuman dilakukan secara relatif mendadak dengan masa transisi yang singkat, sementara mekanisme teknisnya belum sepenuhnya jelas,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).

Baca Juga: Yield Dividen 6,36%, Hari Ini (26/5) Cum Date Saham SRTG, Harga Turun 10%

Dampak kebijakan satu pintu ekspor terhadap IHSG

Hendra menyoroti peringatan dari Moody’s dan S&P sebagai sinyal serius bagi pasar global. Menurut dia, sentralisasi ekspor berpotensi menimbulkan distorsi pasar apabila implementasinya tidak berjalan efisien.

Di tengah kondisi IHSG yang sebelumnya sudah tertekan akibat capital outflow asing dan pelemahan rupiah, sentimen tersebut dinilai memperbesar risk premium pasar Indonesia.

“Dalam kondisi IHSG yang sebelumnya sudah tertekan cukup dalam akibat capital outflow asing dan pelemahan rupiah, sentimen seperti ini otomatis memperbesar risk premium pasar Indonesia,” jelasnya.

Tonton: Pertalite Mulai Langka, Tanda BBM Subsidi Akan Dihapus?

Saham batubara paling sensitif

Untuk sektor energi dan batubara, Hendra memperkirakan dampak kebijakan akan terbagi dalam dua fase. Dalam jangka pendek hingga implementasi penuh pada September 2026, volatilitas saham diperkirakan masih tinggi.

Menurut dia, emiten yang selama ini bergantung pada pasar ekspor spot menjadi pihak yang paling sensitif terhadap kebijakan tersebut karena fleksibilitas penjualan mereka berpotensi berkurang.

Investor juga mulai menghitung kemungkinan kenaikan biaya distribusi dan administrasi ekspor. Hal ini membuat saham-saham seperti ADRO, INDY, HRUM, hingga BUMI sempat mengalami koreksi cukup tajam.

Tonton: Ekspor SDA Satu Pintu Lewat BUMN, APBI Soroti Persiapan Masa Transisi

Investor diminta tidak panic selling

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai kebijakan ekspor satu pintu sebenarnya memiliki tujuan positif. Namun, investor masih mencermati risiko bertambahnya birokrasi dalam rantai perdagangan.

“Hal ini berpotensi menurunkan fleksibilitas ekspor dan kekhawatiran margin emiten bisa tertekan akibat adanya layer tambahan dalam alur perdagangan,” kata Reydi.

Bagi investor yang sudah memiliki posisi di saham terkait, Reydi menyarankan agar tidak melakukan panic selling. Investor dinilai perlu lebih disiplin mengelola profit dan mengurangi eksposur pada saham dengan valuasi terlalu tinggi atau sangat bergantung pada ekspor.

“Fokus bisa bergeser ke emiten big caps yang lebih defensif dan likuid,” ujarnya.

Sementara itu, Hendra menilai panic selling kurang ideal dilakukan ketika saham sudah berada di area koreksi dalam.

Ia juga mengingatkan investor untuk aktif memantau perkembangan aturan teknis lanjutan karena detail implementasi akan sangat menentukan arah sentimen pasar berikutnya.

“Strategi buy and hold pasif tampaknya mulai kurang relevan di situasi sekarang. Pendekatan yang lebih tepat adalah buy and monitor actively,” ucap Hendra.

Tonton: Kementerian ESDM dan DEN Minta PLN Tingkatkan Keandalan Sistem Listrik Sumatra

Rekomendasi saham yang menarik dicermati

Meski volatilitas masih tinggi, Hendra menyebut beberapa saham tetap menarik untuk dicermati investor.

Dari sektor batubara, saham yang direkomendasikan antara lain PTBA, ITMG, dan ADRO. Sementara dari sektor CPO, investor dapat mencermati AALI dan TAPG.

Namun, untuk emiten sawit yang sangat bergantung pada ekspor murni dengan fleksibilitas operasional terbatas, investor disarankan lebih berhati-hati hingga aturan teknis kebijakan benar-benar jelas.

 

Danantara Siap Tutup PT INTI, BUMN Telekomunikasi Legendaris Terancam Bubar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×