Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat adanya tekanan di sisi laba. “Pertumbuhan ada, tapi profitabilitas belum pulih penuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor komoditas seperti emas dan nikel mencatat lonjakan laba, sedangkan sektor infrastruktur dan energi tertentu masih tertekan biaya dan margin.
Ke depan, perbaikan kinerja BUMN dinilai akan sangat bergantung pada peran Danantara dalam mendorong konsolidasi dan efisiensi. Lembaga ini menargetkan perampingan lebih dari 1.000 anak usaha menjadi sekitar 30 klaster strategis, dengan potensi peningkatan laba BUMN hingga Rp 380 triliun.
Baca Juga: Proses Merger Emiten BUMN Karya Masih Banyak Kendala
Meski demikian, pasar masih cenderung menunggu realisasi konkret. “Investor masih wait and see karena eksekusinya belum terbukti,” ujar Abida.
Salah satu katalis yang dinilai bisa menarik kembali investor asing adalah peningkatan dividend payout ratio (DPR) bank Himbara, sehingga imbal hasil menjadi lebih menarik.
Dengan berbagai faktor tersebut, analis memperkirakan kinerja BUMN pada 2026 akan membaik secara bertahap dan selektif.
Sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas diprediksi tetap menjadi andalan, sementara pemulihan sektor konstruksi akan sangat bergantung pada keberhasilan restrukturisasi dan efisiensi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













