Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa aset kripto PT Central Finansial X (CFX) menekankan pentingnya dukungan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global, sekaligus meningkatkan jumlah konsumen yang berdampak pada ekonomi nasional.
Saat ini, biaya transaksi yang kurang kompetitif membuat konsumen Indonesia beralih ke platform offshore tidak berizin, yang volumenya 2,6 kali lipat lebih besar dibanding platform berizin, menurut studi LPEM FEB UI.
Untuk meningkatkan daya saing industri kripto nasional, CFX menyelenggarakan CFX Cryptalk bersinergi denganseluruh pemangku kepentingan. Kegiatan ini membahas struktur biaya transaksi dan solusi agar pasar domestik lebih atraktif.
CFX Cryptalk sebagai upaya meningkatkan daya saing ekosistem aset kripto nasional terhadap industri aset kripto global, khususnya pada aspek struktur biaya transaksi, serta mengeksplorasi potensi solusi untuk menjadikan pasar domestik semakin atraktif.
Baca Juga: Transaksi Kripto Lari Ke Luar Negeri, CFX Akui Ada Ketimpangan Biaya Transaksi
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, menjelaskan bahwa tingginya biaya transaksi di platform berizin OJK dibandingkan platform offshore yang tidak berizin telah menyebabkan aliran modal keluar (capital outflow) yang signifikan. Menurutnya, untuk menarik kembali pasar ini, Indonesia perlu menawarkan insentif yang lebih kompetitif.
“Saat ini masih ada perbedaan biaya transaksi yang cukup besar antara platform dalam negeri dan global. Hal ini membuat banyak pengguna beralih ke platform luar negeri. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif,” jelas Subani dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Sementara itu, Djoko Kurnijanto, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, menambahkan bahwa regulasi yang jelas dan pengawasan yang baik, ditambah dukungan ekosistem perdagangan aset digital yang sudah terbentuk, menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing aset keuangan digital Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Tahun 2025, Nilai Transaksi Derivatif Kripto di Bursa CFX Capai Rp 64,16 triliun
Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Robby, menekankan pentingnya strategi untuk menjaga minat konsumen agar tidak beralih ke platform asing. “Biaya transaksi yang lebih rendah mendorong pedagang meningkatkan volume transaksi, sekaligus memberi insentif bagi konsumen agar lebih aktif bertransaksi di PAKD dan tidak lagi di luar negeri,” tambah Robby.
Lebih lanjut, Subani menyatakan bahwa Bursa Kripto CFX akan mengurangi biaya transaksi secara bertahap. Saat ini, biaya transaksi bursa adalah 0,04% per transaksi, yang akan turun menjadi 0,02% pada 1 Maret 2026, dan kemudian 0,01% pada 1 Oktober 2026.
“Bursa mendengar perhatian konsumen dan PAKD. Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kami membangun pangsa pasar yang lebih besar. Bila biaya transaksi di PAKD lokal semakin kompetitif, kami optimistis dapat menarik kembali konsumen yang saat ini bertransaksi di platform offshore tidak berizin, sekaligus memberikan dampak positif pada perekonomian nasional, termasuk peningkatan penerimaan pajak,” ujar Subani.
Semnetara Robby menilai bahwa penurunan biaya transaksi ini akan memberikan manfaat langsung bagi konsumen Indonesia. “Biaya yang lebih kompetitif akan mendorong partisipasi konsumen dan meningkatkan aktivitas pasar domestik,” katanya.
Selanjutnya: IHSG Mampu Rebound, Sektor Saham Ini Bisa Opsi Bagi Investor
Menarik Dibaca: Smartphone Baru yang Rilis pada Februari 2026: Jangan Salah Pilih, Cek Bocorannya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













