kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Bursa Asia cenderung menguat meski APEC gagal menyepakati pernyataan


Senin, 19 November 2018 / 08:55 WIB
ILUSTRASI. Bursa Asia


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Asia bergerak cenderung naik pada awal pekan ini. Senin (19/11) pukul 8.39 WIB, indeks Nikkei 225 menguat 0,48% ke 21.785. Hang Seng naik 0,25% ke 26.251.

Indeks Taiex naik 0,17% ke 9,814. Bursa Korea menguat dengan kenaikan indeks Kospi 0,17% ke 2.096. Sedangkan FTSE Malaysia menguat tipis 0,09% ke 1.707.

Bursa Australia justru turun 0,54% ke 5.699 dan Straits Times turun 0,50% ke 3.067.

Kabar baik muncul dari data ekspor Jepang. Oktober lalu, ekspor Jepang meningkat setelah merosot di bulan sebelumnya. Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis hari ini menunjukkan, ekspor tumbuh 8,2% secara tahunan pada bulan Oktober. Angka ini masih lebih rendah ketimbang prediksi polling Reuters pada 9%.

Meski lebih rendah, pertumbuhan ekspor Oktober ini jauh lebih baik ketimbang penurunan ekspor 1,3% di bulan September. Ekonomi Jepang diramal tumbuh kembali di kuartal keempat ini. Kuartal ketiga lalu, ekonomi Jepang menurun karena efek bencana alam.

Meski ada kabar positif, bursa Asia masih dibayangi perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Tensi dagang kedua negara ini masih tampak pada pertemuan APEC di Papua Nugini akhir pekan lalu. Para pemimpin Asia Pasific gagal menyepakati pernyataan resmi untuk pertama kalinya setelah konferensi.

Wakil Presiden Mike Pench mengatakan, tidak akan mengakhiri tarif AS atas US$ 250 miliar barang impor dari China hingga China mengubah pendirian. "Komentar Pence dan Presiden China Xi Jinping pada pertemuan Papua Nugini menunjukkan perang dagang belum berakhir," kata Ray Attrill, head of FX strategy NAB kepada Reuters.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×