Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin masih menjadi perhatian investor setelah sempat menembus level US$ 81.000 sebelum kembali terkoreksi. Pergerakan aset kripto ini masih dipengaruhi oleh sentimen makro, arus dana institusional, serta arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (31/8/2026) pukul 15.56 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 78.412, naik 0,46% dalam 24 jam dan 1,75% dalam sepekan.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan penguatan Bitcoin sebelumnya turut didorong oleh perubahan kondisi likuiditas di pasar keuangan Amerika Serikat (AS). Kebijakan buyback obligasi jangka panjang pemerintah AS dinilai memberikan sentimen positif bagi aset kripto.
Baca Juga: Laba Bersih BEI Naik 178,83% ke Rp 779,97 Miliar per Juni 2026
"Kenaikan itu diperkuat oleh short squeeze, di mana trader yang bertaruh harga turun terpaksa menutup posisi mereka. Nilai likuidasi short mencapai miliaran dolar dalam beberapa hari, salah satu gelombang terbesar sejak November 2021, dan ini menciptakan tekanan beli tambahan yang mempercepat reli hingga Bitcoin sempat menyentuh US $81.000," kata Yudhono kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Selain short squeeze, arus dana exchange traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat juga menjadi penopang pergerakan harga. Yudhono menyebut perubahan perilaku investor besar atau whale yang mulai melakukan akumulasi turut menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap Bitcoin.
Meski demikian, Bitcoin tetap berpotensi mengalami koreksi setelah mencatat penguatan dalam waktu singkat. Yudhono menilai pelemahan setelah Bitcoin menyentuh US$ 81.455 masih tergolong wajar dan belum menunjukkan pembalikan tren utama.
Sementara itu, Co-Founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir menyebut pergerakan Bitcoin saat ini masih lebih banyak dipengaruhi sentimen makro, terutama ekspektasi terhadap arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,11% ke 6.525 Senin (31/8), Top Gainers: Saham AKRA, ADRO, AADI
"Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harganya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya," jelas Christopher.
Christopher menambahkan, koreksi lebih dalam dapat terjadi apabila muncul faktor negatif yang secara fundamental mampu mengubah sentimen pasar secara umum.
Adapun hingga akhir 2026, Yudhono memproyeksikan Bitcoin berada di kisaran US$ 100.000-US$ 150.000, dengan peluang mendekati US$ 126.000 jika arus ETF tetap kuat dan The Fed mulai melonggarkan suku bunga. Sementara itu, Christopher memperkirakan Bitcoin dapat kembali ke kisaran US$ 50.000 pada akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














