Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga saham terendah Rp 50 menjadi dinamika baru bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Pasalnya, GOTO masih bertahan di level gocap.
Seperti diketahui, BEI berencana menghapus ketentuan batas bawah harga saham Rp 50 untuk seluruh papan pencatatan. Jika terealisasi, saham GOTO berpeluang diperdagangkan di bawah level tersebut hingga batas terendah Rp 1.
Namun di tengah dinamika harga saham dan regulasi tersebut, pasar juga mencermati aksi Morgan Stanley yang tercatat membeli saham GOTO di harga Rp 23 berdasarkan keterbukaan informasi pada 26 Agustus 2026.
Baca Juga: Alamtri Minerals (ADMR) Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba pada Semester I-2026
Morgan Stanley tercatat menjadi salah satu pemegang saham GOTO dengan kepemilikan hampir 59,4 miliar saham atau setara sekitar 5,2% dari total saham beredar GOTO.
Analis MNC Sekuritas Christian mengatakan, perubahan aturan tersebut memang berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap saham GOTO. Namun, penghapusan floor price justru dapat memperbaiki likuiditas perdagangan.
“Aturan komisi dan rencana floor price Rp 50 dihapus memang jadi dinamika baru untuk GoTo dan investornya," jelasnya dalam paparan, Senin (31/8).
Menurut Christian, potensi saham GOTO turun di bawah Rp 50 dapat menjadi tekanan jangka pendek. Namun, kondisi tersebut memungkinkan harga saham kembali menemukan titik keseimbangan melalui mekanisme permintaan dan penawaran.
“Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp 50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu,” kata dia.
Christian menjelaskan, kondisi saham GOTO di level Rp 50 saat ini menciptakan technical overhang. Antrean jual yang lebih besar dibandingkan antrean beli membuat transaksi tidak selalu dapat terjadi pada harga tersebut.
Baca Juga: Dolar Selandia Baru Menguat Tipis Menjelang Keputusan RBNZ
Dua menambahkan perubahan aturan dapat membuka ruang bagi passive fund untuk melakukan rebalancing setelah GOTO dikeluarkan dari indeks global FTSE maupun MSCI.
“Dengan kondisi harga saham saat ini di Rp50 memang ada technical overhang, di mana passive fund yang harus keluar dari saham GoTo karena eksklusi FTSE dan MSCI, tetapi mereka tertahan," tuturnya.
Christian bilang, apabila tekanan teknikal tersebut mulai terurai, saham GOTO berpeluang mengalami perbaikan price discovery dan price recovery. Dus, tekanan jangka pendek dapat diikuti oleh likuiditas perdagangan yang lebih sehat.
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz menimpali perubahan floor price kemungkinan memberikan tekanan temporer akibat technical overhang. Setelah tekanan tersebut mereda, fundamental akan menjadi penentu pergerakan saham.
“Ada ruang bagi GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay," kata dia.
Aziz menyebut, keberlanjutan fundamental GOTO juga akan sangat dipengaruhi kepastian regulasi. Terlebih, pemerintah telah memangkas komisi aplikasi untuk layanan angkutan roda dua menjadi maksimal 8% mulai 1 Juli 2026.
Aturan tersebut sebelumnya menetapkan potongan komisi aplikasi hingga 20%. Sementara untuk layanan pengantaran makanan dan barang, pemerintah masih menyiapkan kerangka pengaturan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing bisnis.
Menurut Aziz, fleksibilitas regulasi menjadi faktor penting bagi keberlanjutan ekosistem GOTO. Jika platform masih memiliki ruang menentukan pricing dan menjaga kualitas layanan, profitabilitas perseroan dinilai tetap berpeluang dipertahankan.
“Saat ini kepastian regulasi memang sangat dinanti. Ketika keberlanjutan ekosistem jadi prioritas regulasi, ini akan menjadi sentimen dan katalis positif untuk saham GoTo," tuturnya.
Aziz optimistis, GOTO dapat mencapai target adjusted EBITDA setahun penuh 2026 sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Target tersebut didukung prospek kontribusi yang lebih besar dari bisnis fintech.
Sebelumnya, Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengatakan, bisnis fintech terus menunjukkan kinerja kuat. Bahkan, profitabilitas fintech telah melampaui bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Astra (ASII) Rogoh Rp 858 Miliar, Borong Saham AUTO Lewat Tender Sukarela
“Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp 3,2 triliun–Rp3,4 triliun," ucap Hans.
Manajemen GOTO memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














