Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin (BTC) diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan hingga akhir tahun seiring minimnya katalis positif dari pasar keuangan global maupun industri kripto.
Mengutip data CoinMarketCap pada Jumat (31/7/2026) pukul 15.35 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 63.864,95, turun 0,52% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasarnya tercatat sekitar US$ 1,28 triliun, dengan nilai transaksi harian mencapai US$ 29 miliar.
Baca Juga: Elnusa (ELSA) Siapkan Buyback Saham Maksimal Rp100 Miliar, Cek Jadwalnya
Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dinilai belum mampu menjadi katalis yang cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga aset kripto.
Co-founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir menilai, Bitcoin masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
"Untuk saat ini, Bitcoin cenderung masih tertekan karena minimnya katalis positif," ujar Christopher kepada Kontan.co.id, Jumat (31/7/2026).
Menurut dia, selain kebijakan suku bunga yang tetap tinggi, belum adanya perkembangan berarti terkait regulasi kripto di Amerika Serikat juga membatasi ruang penguatan Bitcoin.
Christopher menilai, pasar baru akan memperoleh sentimen positif yang kuat apabila muncul kebijakan yang lebih progresif.
"Kecuali tiba-tiba ada aturan yang mengesahkan bahwa negara dapat membeli Bitcoin sebagai cadangan devisa ataupun cadangan strategis lainnya," jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Rebound Rp 18.022 di Akhir Juli, Meski Masih Melemah Secara Mingguan
Strategi untuk Investor
Di tengah pergerakan harga yang masih cenderung terbatas, Christopher menyarankan investor jangka panjang menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara bertahap dalam nominal tetap tanpa terlalu memedulikan fluktuasi harga jangka pendek.
Sementara itu, trader jangka pendek perlu lebih disiplin memanfaatkan momentum dan arah tren.
"Untuk trader jangka pendek, perhatikan momentum dan tren jangka pendek agar dapat memanfaatkan ayunan harga," ujarnya.
Baca Juga: Laba Mitra Pinasthika (MPMX) Melesat 23% pada Semester I-2026
Dari sisi pemilihan aset, ia menyarankan investor memprioritaskan aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, khususnya yang berada dalam kelompok Top 5 hingga Top 10.
Berdasarkan data CoinMarketCap, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar setelah Bitcoin antara lain Ethereum (ETH) di kisaran US$ 1.886,18, Tether (USDT) di US$ 0,9989, BNB di US$ 589,82, dan USD Coin (USDC) di US$ 0,9998.
Sementara itu, aset kripto besar lainnya yang juga layak dicermati meliputi XRP di US$ 1,07, Solana (SOL) di US$ 73,59, TRON (TRX) di US$ 0,3284, Hyperliquid (HYPE) di US$ 54,82, serta Dogecoin (DOGE) di US$ 0,06980.
Berpotensi Turun ke US$ 50.000
Untuk prospek jangka panjang, Christopher memperkirakan pasar kripto masih akan menghadapi fase koreksi yang cukup dalam.
Baca Juga: Laba PIK 2 (PANI) Melesat 483%, Pendapatan Tembus Rp 2,92 Triliun Semester I 2026
Ia memproyeksikan harga Bitcoin masih berpotensi turun hingga kisaran US$ 50.000 sebelum menutup tahun 2026 apabila belum muncul katalis positif yang mampu mengubah sentimen pasar secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
