kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

BI Tahan Suku Bunga, SBN Ritel Masih Jadi Pilihan Investor


Selasa, 28 April 2026 / 15:30 WIB
BI Tahan Suku Bunga, SBN Ritel Masih Jadi Pilihan Investor
ILUSTRASI. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT) (KONTAN/Muradi)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21–22 April 2026.

Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali dalam kisaran target 2,5±1% pada periode 2026–2027. 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, prospek SBN ritel setelah BI menahan suku bunga arahnya masih cukup konstruktif, meskipun tidak tanpa catatan. Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4,75% memberi sinyal Indonesia sedang berada dalam fase suku bunga yang relatif tinggi dan cenderung stabil.

Baca Juga: IHSG Melemah, Waspada “Sell in May” dan Peluang Rebound Terbatas

Ruang penurunan dalam waktu dekat masih terbatas karena tekanan eksternal belum sepenuhnya reda, baik dari sisi geopolitik, harga energi, maupun stabilitas nilai tukar. 

“Dalam situasi seperti ini, SBN ritel justru berada di posisi yang cukup menarik. Pemerintah tetap perlu menjaga daya tarik kupon agar penyerapan kuat, apalagi di tengah kenaikan yield SBN di pasar sekunder,” ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).  

Di sisi lain, Yusuf menilai instrumen seperti deposito masih kurang kompetitif jika dibandingkan secara neto, karena pajaknya lebih tinggi dan bunganya belum bergerak signifikan.

Namun ada perubahan perilaku investor yang penting dicermati. Investor ritel sekarang tidak lagi hanya melihat BI Rate sebagai acuan, tapi juga mulai memperhatikan yield pasar, inflasi, dan ekspektasi ke depan. 

“Artinya, penentuan kupon ke depan, termasuk untuk ST016, akan lebih sensitif terhadap spread yang ditawarkan, bukan sekadar level absolutnya,” terang Yusuf. 

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan telah menerbitkan dua SBN ritel pada tahun ini. Yakni ORI029 yang ditawarkan pada 26 Januari - 19 Februari 2026 dan SR024 (SBN Syariah) yang ditawarkan pada 6 Maret sampai 15 April 2026. 

Adapun, SBN ritel yang akan diterbitkan dalam waktu dekat adalah Sukuk Tabungan seri ST016 yang ditawarkan pada 8 Mei sampai 3 Juni 2026.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Berencana Jual Saham Hasil Buyback Sebanyak 7,5 Juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×