kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   20.000   0,71%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Jurus Investasi Dirut ALDO, Keseimbangan dan Pengelolaan Aset Jangka Panjang


Minggu, 26 April 2026 / 07:00 WIB
Jurus Investasi Dirut ALDO, Keseimbangan dan Pengelolaan Aset Jangka Panjang
ILUSTRASI. Herwanto Sutanto, Direktur Utama PT Alkindo Naratama Tbk (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi Direktur Utama PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO), Herwanto Sutanto, investasi bukan sekadar upaya mencari keuntungan. Menurutnya, investasi  bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan aset dan pengelolaan risiko.

Prinsip tersebut tidak datang secara instan, melainkan terbentuk dari perjalanan panjangnya. Mulai dari seorang profesional di perusahaan multinasional hingga akhirnya menjadi pengusaha.

Herwanto hampir dua dekade berkarier di perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia asal Swiss. Dari situ ia memiliki fondasi kuat dalam disiplin kerja, pengambilan keputusan, serta pemahaman terhadap dinamika industri.

Menjelang usia 40 tahun. Saat itu, ia justru memutuskan keluar dari zona nyaman untuk menekuni bisnis yang telah ia rintis bersama kakaknya.

Dari titik itulah, perjalanan Grup Alkindo dimulai. "Dari perusahaan keluarga, kami belajar menjadi lebih tertata, transparan, dan comply dengan aturan. Itu proses yang sangat penting dalam perjalanan kami," jelasnya.

Seiring perjalanan kariernya, Herwanto mulai mengenal investasi sejak masih aktif bekerja sebagai profesional. Baginya, investasi merupakan bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang untuk menjaga kestabilan aset sekaligus mengantisipasi ketidakpastian di masa depan.

Saat ini, ia mengelola portofolio investasi yang relatif terdiversifikasi, dengan dominasi pada reksadana sekitar 50%. Instrumen ini mencakup reksadana saham, pendapatan tetap, hingga pasar uang.

"Reksadana saya pilih karena lebih praktis. Saya tidak punya waktu banyak untuk memantau saham satu per satu," ujarnya.

Selain itu, sekitar 10% portofolio ditempatkan pada saham individu, khususnya saham-saham bluechip berfundamental kuat. Sementara sisanya dialokasikan ke properti dan instrumen lain seperti emas sebagai pelengkap.

Pendekatan ini mencerminkan strategi investasi yang menekankan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan tingkat risiko. Ia menyadari bahwa tidak semua instrumen bisa dipantau secara intensif, sehingga pemilihan investasi harus disesuaikan dengan waktu dan pemahaman yang dimiliki.

Pergeseran teknologi 

Herwanto mengaku, tidak tertarik pada instrumen seperti aset kripto. Ia karena merasa belum memiliki waktu yang cukup untuk memahami karakteristiknya secara mendalam.

"Kalau tidak punya waktu untuk monitor, lebih baik pilih instrumen yang kita pahami," tegasnya.

Menurutnya, tantangan investasi saat ini semakin kompleks seiring perubahan teknologi dan dinamika global yang berlangsung sangat cepat. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan istilah volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA), yang kini menjadi realitas dalam berbagai aspek, termasuk investasi.

"Perubahan sekarang sangat cepat, bahkan teknologi bisa bergeser sebelum investasi itu balik modal. Jadi kita harus lebih adaptif," katanya.

Meski dihadapkan pada ketidakpastian tersebut, Herwanto tetap memegang prinsip dasar dalam berinvestasi, yakni memahami risiko sebelum mengejar keuntungan. Ia menekankan pentingnya mengukur kemampuan diri dalam menanggung risiko, terutama bagi investor pemula.

"Kalau kita salah dalam investasi, dampaknya harus dihitung. Jangan sampai mengganggu kebutuhan utama," jelasnya.

Ia menyarankan agar investor membagi portofolio secara seimbang antara instrumen berisiko tinggi untuk mengejar imbal hasil, dan instrumen yang lebih stabil untuk menjaga keamanan aset.

"High risk high return itu wajar, tapi harus tahu berapa porsi yang sanggup kita tanggung," imbuhnya.

Bagi Herwanto, investasi pada akhirnya bukan hanya soal angka atau keuntungan semata, tetapi juga soal disiplin, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang terus terjadi. "Yang penting kita terus belajar. Kalau salah, jangan sampai fatal, jadikan pembelajaran ke depan," katanya.               

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×