Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing mulai kembali mencermati pasar Indonesia seiring arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin moderat dan ramah pasar. Meski demikian, rendahnya bobot Indonesia dalam indeks global membuat arus dana asing berpotensi pulih secara bertahap.
CGS International Sekuritas mencatat investor asing membukukan arus masuk bersih (net inflow) sebesar US$155 juta pada pekan pertama September 2026. Menurut CGS International Sekuritas, perkembangan tersebut menunjukkan mulai munculnya kembali perhatian investor asing terhadap aset Indonesia.
Analis CGS International Sekuritas Hadi Soegiarto dalam riset 15 September 2026 mengatakan, perhatian investor asing terhadap Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan periode ketika bobot Indonesia dalam indeks MSCI APAC ex-Japan lebih besar. "Bobot Indonesia yang rendah, hanya 0,5% dalam indeks MSCI APAC ex-Japan telah mengurangi perhatian investor asing terhadap pasar Indonesia dibandingkan ketika bobotnya masih 1,2% pada Desember 2025," tulis Hadi dalam risetnya.
Baca Juga: UBS Lepas 1,19 Juta Saham CPIN di Rp 3.111, Kepemilikan Turun Jadi 5,99%
Pada Agustus 2026, bobot Indonesia dalam indeks tersebut hanya setara dengan sekitar 51% bobot Thailand, 50% Malaysia, dan 14% Singapura. Kondisi ini membuat perbaikan kebijakan domestik membutuhkan waktu lebih panjang untuk diterjemahkan menjadi aliran dana asing.
Hadi menjelaskan, investor asing cenderung menunggu dalam periode yang lebih panjang untuk memastikan bahwa perbaikan kebijakan di Indonesia berlangsung konsisten dan berkelanjutan sebelum mengambil posisi investasi jangka panjang.
Meski demikian, CGS International Sekuritas melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi melanjutkan penguatan apabila pemerintah terus menghadirkan kebijakan yang market friendly.
Selain faktor domestik, investor asing masih mencermati perkembangan global, terutama arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan harga minyak.
Hadi mengatakan, selama kegiatan marketing CGS International Sekuritas pada pekan lalu, pihaknya melihat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta tingginya harga minyak secara bertahap mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar Indonesia.
Karena itu, kepastian arah suku bunga The Fed dan penurunan harga minyak dinilai menjadi faktor penting sebelum IHSG dapat kembali melanjutkan tren penguatannya.
"Investor sangat tertarik membahas prospek kebijakan fiskal dan moneter Indonesia, yang berkaitan erat dengan kepercayaan mereka terhadap rupiah," tulis Hadi.
Dari sisi fiskal, investor mempertanyakan kemampuan Indonesia menurunkan defisit fiskal sesuai target pemerintah. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah harga minyak yang tinggi dan potensi meningkatnya beban subsidi.
Menurut Hadi, apabila Menteri Keuangan yang baru mampu merealisasikan penurunan defisit sesuai target, hal tersebut akan dipandang positif oleh investor asing.
Baca Juga: IHSG Turun 1,53% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp 180 Triliun
Sementara dari sisi moneter, perhatian investor tertuju pada sikap Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi The Fed yang semakin hawkish, terutama terhadap implikasinya bagi stabilitas nilai tukar rupiah.
Faktor lain yang menjadi perhatian investor adalah keputusan MSCI menjelang review indeks pada November 2026.
Hadi menyebut sejumlah investor menyampaikan kekecewaan apabila skenario dasar CGS International Sekuritas, yakni perpanjangan status freeze tanpa downgrade, benar-benar terjadi.
Namun, skenario tersebut tidak serta-merta mendorong investor untuk melakukan aksi jual. Pasalnya, investor menilai perbaikan kondisi makroekonomi dan kebijakan domestik lebih penting dalam menentukan keputusan investasi jangka panjang.
Meski begitu, CGS International Sekuritas menilai pemulihan penuh IHSG ke level 2025 membutuhkan pencabutan status freeze MSCI.
Selain faktor ekonomi dan indeks, investor juga menanyakan risiko sosial setelah aksi demonstrasi yang cukup terlihat namun relatif terbatas pada Agustus 2026.
"Secara keseluruhan, meskipun investor terlihat berhati-hati, kami memandang situasi ini secara positif," ujar Hadi.
CGS International Sekuritas memperkirakan pemulihan IHSG dapat kembali berlanjut apabila sejumlah faktor eksternal mulai stabil. Hadi juga menegaskan kembali pandangan positif dalam laporan sebelumnya dengan tema "Half the weight, double the effort."
Untuk saham pilihan utama, CGS International Sekuritas memilih BBCA, BBRI, BBNI, ASII, AADI, UNVR, EXCL, TINS, JPFA, MAPA, BFIN, dan WIIM.
CGS International Sekuritas juga menambahkan BBRI ke dalam daftar saham pilihan utama. Penambahan tersebut didasarkan pada ekspektasi perbaikan metrik operasional dan kualitas aset BBRI dalam jangka pendek, yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan laba bersih perseroan melampaui sebagian besar emiten sejenis.
Baca Juga: OJK Resmi Terbitkan Aturan Demutualisasi BEI, Ini Tujuh Poin Pentingnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














