Reporter: Amailia Putri Hasniawati | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Selain menyewa konsultan binsis, manajemen PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) juga melakukan beberapa upaya untuk memperbaiki kinerja.
Bernard Kent Sondakh, Direktur Utama BLTZ dalam penjelasan laporan keuangannya mengatakan, beberapa program yang telah dilakukan. Beberapa program itu antara lain, memperkuat peningkatan pendapatan grup dari penjualan concesssion (makanan dan minuman) serta iklan.
Mengembangkan nilai tambah inisiatif seperti bekerjasama dengan event organizer di bidang penyiaran pertunjukan langsung.
"Seperti konser, acara olahraga dan lain-lain," ujar Bernard.
Perseroan juga berusaha meningkatkan efisiensi biaya grup dengan mengendalikan biaya operasional yang signifikan. Misalnya, biaya sewa dan jasa layanan, serta utilitas. Salah satu penyebab melonjaknya rugi bersih BLTZ di sembilan bulan pertama 2014 adalah membengkaknya beban operasional.
Beban operasional pemilik jaringan bioskop Blitzmegaplex ini mencapai Rp 165,65 miliar. Angka itu melonjak 17,73% year-on-year (yoy). Beban operasional ini terdiri dari beban penjualan sebesar Rp 3,62 miliar serta beban umum dan administrasi senilai Rp 162,03 miliar.
Beban ini menjadi pemberat ketika perseroan sulit mendongkrak pendapatan. Pendapatan bersih Graha Layar Prima per akhir September 2014 menyusut dari Rp 228,64 miliar menjadi Rp 227,18 miliar. Alhasil, kerugian pun menanjak hampir sembilan kalilipat menjadi Rp 33,35 miliar.
Padahal, menrut Bernard, perseroan berupaya terus tetap berbeda dari bioskop kompetitor dengan memperkenalkan pengalaman hiburan yang unik. Selain itu, perseroan juga mengadopsi teknologi yang canggih dan memastikan jaringan filim yang kuat dalam rangka memperkuat pendapatan bioskop.
Upaya lainnya adalah perseroan terus mengembangkan jaringan Blitzmegaplex di luar kota Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News