kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Begini strategi Kalbe Farma hadapi depresiasi rupiah


Rabu, 23 Mei 2018 / 14:45 WIB
ILUSTRASI. Pabrik Pengemasan Minuman Air Kelapa


Reporter: Dian Sari Pertiwi | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS semakin lunglai di pasaran. Bahkan, awal pekan ini rupiah sudah menyentuh level Rp 14.200 per dollar AS. Pelemahan rupiah tentu akan membebani emiten-emiten yang memiliki utang dalam dollar AS. Itu sebabnya, emiten perlu menyiapkan strategi untuk menghindari risiko kerugian akibat pelemahan nilai tukar.

Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Vidjongtius mengungkapkan, pelemahan rupiah menyebabkan perusahaan menghitung ulang biaya produksi. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan ke depan.

"Kami lakukan perhitungan kembali biaya produksi dan melakukan pengaturan mix produk yang dipasarkan," kata Vidjongtius kepada Kontan.co.id, Selasa (22/5).

Selain itu, perusahaan juga melakukan mitigasi risiko, melalui cash balance. "Mitigasi risiko kami melalui cash balance dalam dollar AS di neraca sekitar US$ 40 juta-US$ 50 juta dan ini policy cash management sejak dulu," paparnya.

Artinya, perusahaan masih menerapkan berbagai kebijakan yang sama. Vidjongtius juga menekankan pihaknya saat ini tidak memiliki utang luar negeri.

Berdasarkan laporan keuangan KLBF per kuartal I-2018, perusahaan melaporkan liabilitas lancar berupa utang usaha lain-lain sebesar US$ 19,44 juta dan € 2,90 juta. Sedangkan, liabilitas jangka panjang berupa utang bank jangka panjang sebesar € 440.000, sedangkan utang jangka panjang untuk sewa pembiayaan sejumlah US$ 56.980.

Vidjongtius menjelaskan, dalam laporan tersebut, angka-angka yang besar merupakan utang usaha dari impor bahan baku. Namun, nilai tersebut lebih kecil dari nilai aset dalam dollar AS. "Beban bunga utang saat ini, sekitar 6,5%-7,5%," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×