kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Batavia: ETF punya prospek yang menarik bagi investor di tahun ini


Rabu, 27 Maret 2019 / 20:11 WIB


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walau industri Exchange Traded Fund (ETF) masih tergolong baru di Indonesia, instrumen tersebut dinilai memiliki prospek yang menarik bagi para investor pada tahun ini.

Direktur Utama Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi mengatakan, ETF sudah berkembang pesat di Amerika Serikat. Bahkan, 25% hingga 40% transaksi pasar saham di AS didorong oleh ETF.

Industri ETF di Indonesia sendiri masih dalam tahap berkembang, namun pelan tapi pasti permintaan terhadap instrumen tersebut terus meningkat. Lilis pun menyebut, jumlah dana kelolaan ETF baru mencapai kisaran Rp 7,9 triliun di Januari 2018 lalu.

Tetapi, pada akhir tahun lalu dana kelolaan instrumen tersebut meningkat di kisaran Rp 11,56 triliun. "Di tengah gejolak pasar saham dan obligasi di tahun lalu, ETF justru makin dikenal dan diminati oleh investor," kata dia, Rabu (27/3).

Lilis pun yakin tren serupa akan kembali terjadi sepanjang tahun ini. Secara umum, ia menjelaskan, ETF memiliki keunggulan dari segi transparansi. Sebab, investor bisa memantau seluruh isi portofolio dari ETF yang dimilikinya.

Risiko ETF juga lebih terdiversifikasi mengingat portofolio instrumen ini berisi seluruh saham yang terdapat di dalam indeks yang menjadi acuan. "Return yang diperoleh juga lebih kompetitif dan menggambarkan kinerja indeks," ujarnya.

Direktur BPAM Prihatmo Hari Mulyanto menambahkan, tantangan industri ETF saat ini lebih kepada memaksimalkan transaksi di pasar sekunder. Sudah bukan rahasia umum lagi, transaksi ETF jauh lebih ramai di pasar primer ketimbang di pasar sekunder. Hasilnya, likuiditas ETF di pasar primer juga lebih mumpuni.

Walau begitu, Prihatmo menilai tantangan tersebut tak perlu terlalu dikhawatirkan. "Ini lebih diakibatkan industri ETF yang masih baru di Indonesia. Di negara maju juga ada masalah serupa ketika ETF belum lama diperkenalkan," ungkap dia.

Menurutnya, investor tak perlu risau. Sebab, walau transaksi ETF di pasar sekunder cenderung minim, ada dealer partisipan yang bertindak sebagai market maker.

Dengan begitu, ETF yang beredar di pasar sekunder tetap bisa laku ketika investor ingin menjual. "Kalau jumlah ETF dan dealer partisipan semakin banyak, harusnya itu bisa meningkatkan nilai transaksi di pasar sekunder," tutur Prihatmo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×