Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) meraup pendapatan konsolidasian sebesar US$ 8,69 miliar sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Realisasi tersebut meningkat 56,3% secara tahunan bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BRPT juga mencatat EBITDA konsolidasian sebesar US$ 1,4 miliar, turun 35,2% secara year on year (yoy). Sementara itu, laba bersih setelah pajak konsolidasian mencapai US$ 616 juta, merosot 66,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Barito Pacific Agus Pangestu mengatakan, lingkungan bisnis global memasuki kuartal III-2026 masih menghadapi berbagai tantangan, terutama di sektor energi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar yang masih berlanjut.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,80% ke 5.057 pada Jumat (30/10/2026), BRPT, CUAN, ISAT Top Losers LQ45
"Di tengah dinamika tersebut, portofolio bisnis Barito Pacific Group yang terdiversifikasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur tetap menunjukkan ketahanan dan menopang kinerja grup secara keseluruhan," kata Agus dalam keterangan resminya, Jumat (30/10/2026).
Agus menambahkan, pencapaian EBITDA dan laba bersih di periode tersebut mencerminkan ketahanan operasional serta konsistensi pelaksanaan strategi di seluruh lini bisnis. Perusahaan juga terus menjaga struktur permodalan yang sehat, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,77 kali.
Kondisi tersebut memberikan fleksibilitas keuangan bagi perusahaan untuk mendukung investasi strategis yang sedang berjalan sekaligus merealisasikan agenda pertumbuhan jangka panjang.
Dari sisi pengembangan bisnis, Barito Pacific terus memperkuat sumber pendapatan dan mempercepat sejumlah prioritas strategis. Melalui Chandra Asri Group, perseroan mengembangkan portofolio bisnis di bidang Energi dan Kimia, Infrastruktur Terintegrasi, serta Solusi Mobilitas.
Grup juga mengoptimalkan sinergi operasional antara aset-aset di Singapura dan Indonesia untuk memperkuat keandalan pasokan, meningkatkan integrasi operasional, serta memperkuat daya saing di tingkat regional.
Sementara itu, melalui Barito Renewables, perseroan melanjutkan ekspansi bisnis panas bumi. Penyelesaian proyek retrofit Darajat Unit 3 dengan tambahan kapasitas 8,55 megawatt (MW) pada Oktober 2026 telah meningkatkan total kapasitas terpasang panas bumi menjadi 935,55 MW.
Barito Pacific menargetkan ekspansi portofolio panas bumi tersebut dapat mendorong total kapasitas terpasang melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026.
Di sisi lain, proyek strategis Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Indonesia telah mencapai 80% penyelesaian konstruksi. Proyek tersebut berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2027.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,29% ke 5.032,4 Sesi I Jumat (30/10), Saham BRPT, SCMA, CUAN Top Losers
Ke depan, Barito Pacific tetap berkomitmen melanjutkan berbagai proyek pertumbuhan strategis dengan mengedepankan disiplin investasi dan pengelolaan risiko. Perusahaan juga akan berfokus pada pengembangan portofolio bisnis yang semakin terdiversifikasi, penguatan disiplin operasional dan keuangan, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
"Didukung oleh platform bisnis yang terintegrasi dan eksekusi strategi yang konsisten, kami optimistis Barito Pacific berada pada posisi yang tepat untuk menangkap peluang pertumbuhan, menjaga ketahanan bisnis dalam menghadapi berbagai siklus pasar, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan," tutup Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














