kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.760   26,00   0,15%
  • IDX 6.202   -52,50   -0,84%
  • KOMPAS100 824   -7,19   -0,87%
  • LQ45 624   -0,95   -0,15%
  • ISSI 212   -0,88   -0,41%
  • IDX30 354   -0,24   -0,07%
  • IDXHIDIV20 435   -0,39   -0,09%
  • IDX80 94   -0,37   -0,40%
  • IDXV30 115   -1,12   -0,97%
  • IDXQ30 114   0,48   0,42%

Barito Pacific (BRPT) Tak Lagi Bergantung pada Petrokimia, Simak Prospek Sahamnya


Rabu, 17 Juni 2026 / 11:46 WIB
Barito Pacific (BRPT) Tak Lagi Bergantung pada Petrokimia, Simak Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. rekomendasi saham Barito Pacific (BRPT)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026 seiring kontribusi penuh bisnis energi terintegrasi di Singapura, peningkatan kapasitas kilang, diyakini dapat menopang pertumbuhan kinerja konglomerasi ini.

Pada kuartal I-2026, BRPT mencatatkan lonjakan kinerja seiring dengan kontribusi kuat dari operasi kilang minyak di Singapura. Seperti diketahui, anak usaha BRPT, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengoperasikan Kilang Minyak Aster (sebelumnya Shell Energy & Chemicals Park) yang diakuisisi pada April 2025. 

BRPT juga memiliki jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang diakuisisi dari ExxonMobil pada Januari 2026.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, kontribusi Kilang Aster yang kini telah terintegrasi penuh menjadi salah satu penopang utama kinerja BRPT. Menurut dia, tambahan bisnis ritel bahan bakar melalui Esso juga membuat sumber pendapatan perseroan semakin beragam.

Baca Juga: Dividen TLKM Segera Cum Date Rabu (17/6): Cek Kinerja Saham dan Keuangan Emiten Ini

"Prospek hingga akhir 2026 masih konstruktif. Kenaikan laba pada 2025 berlanjut hingga kuartal I-2026 dengan kontribusi kilang Aster yang sudah terintegrasi penuh," ujar Wafi kepada Kontan, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, akuisisi Esso dari ExxonMobil memberikan tambahan pendapatan berulang (recurring revenue) dari bisnis ritel bahan bakar yang memiliki margin lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia.

Dengan demikian, BRPT kini tidak lagi hanya bergantung pada bisnis petrokimia. "BRPT sekarang sudah transformasi dari pure petrochemical play ke integrated energy dan chemicals company, dan diversifikasi ini kurangi volatilitas earnings secara struktural," ungkap Wafi.

Menurut Wafi, sejumlah katalis masih berpotensi menopang kinerja BRPT sepanjang tahun ini. Pertama, utilisasi Kilang Aster yang diperkirakan terus meningkat. Kedua, kontribusi bisnis ritel Esso yang relatif stabil dan dapat diprediksi.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga berpotensi memberikan keuntungan bagi BRPT karena sebagian besar pendapatannya berbasis dolar AS. Katalis berikutnya berasal dari proyek Chandra Asri Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan laba baru.

Dari sisi pasar modal, Wafi menilai, posisi free float BRPT yang mencapai 26,7% membuat saham ini relatif aman dari risiko dikeluarkan dari indeks global seperti MSCI maupun FTSE.

Meski demikian, ia mengingatkan sejumlah sentimen negatif yang masih perlu dicermati investor. Salah satunya adalah tekanan pada spread petrokimia global akibat kelebihan pasokan (oversupply) dari China yang masih membayangi industri.

Baca Juga: Baramulti Suksessarana (BSSR) Tebar Dividen US$ 70 Juta, Setara Rp 486 per Saham

Selain itu, normalisasi harga minyak berpotensi menekan margin bisnis pengilangan. Risiko lainnya berasal dari tingkat suku bunga yang masih tinggi. Menurut Wafi, suku bunga acuan Bank Indonesia di level 5,50% dapat meningkatkan biaya pendanaan (cost of debt) mengingat leverage BRPT masih tergolong tinggi.

Dari sisi fundamental, BRPT memang menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan. Mengacu laporan keuangan perusahaan, pendapatan BRPT melonjak tajam 232,18% year on year (yoy) menjadi US$ 2,57 miliar pada akhir kuartal I-2026. Sedangkan pada kuartal I-2025, emiten ini meraup pendapatan US$ 773,75 juta.

BRPT turut mencetak laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak US$ 90,48 juta pada kuartal I-2026 atau meningkat 459,90% yoy dibandingkan laba bersih perusahaan periode sebelumnya yakni US$ 16,16 juta.

 

Wafi menilai pembalikan arah saham BRPT yang terjadi belakangan ini telah didukung oleh fundamental perusahaan.

Dengan berbagai sentimen dan katalis di atas, Wafi pun memberikan rekomendasi kepada investor untuk Buy saham BRPT dengan target harga Rp 2.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×