Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Tahun depan, pemerintah menganggarkan belanja modal Rp 205,8 triliun. Angka ini 6,9% lebih besar dibanding alokasi belanja modal pemerintah tahun ini. Nantinya, sebagian besar anggaran ini bakal dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya sektor kelistrikan.
Alfred Nainggolan, analis Buana Capital berkata, peningkatan pembangunan infrastruktur ini tentunya bisa menambah pendapatan emiten yang bersangkutan karena jangkauan pendistribusian listriknya bisa menjangkau daerah-daerah terpencil. Tapi, ini jika pembangunannya sudah selesai. "Selama konstruksinya masih berlangsung, saham-saham emiten BUMN 'karya' boleh diperhatikan," imbuhnya, Senin (19/8).
Terlepas masalah persaingan, kenyataannya permintaan proyek infrastruktur masih besar. Bahkan, lanjut Alfred, emiten-emiten tersebut mengalami kelebihan (overloaded) proyek. Potensi kinerja emiten tersebut kian besar mengingat APBN tahun depan banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur.
Saham-saham emiten seperti PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bisa menjadi pilihan dibanding PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Harga ketiga saham tersebut saat ini masing-masing ada di level 1.330, 2.575, dan 1.980. Jika melihat harga, maka harga saham PTPP terlihat lebih mahal.
Namun, jika melihat price earning ratio (PER)-nya, justru saham WIKA yang lebih mahal. Catatan saja, PER ketiga saham tersebut masing-masing sebanyak 17,25 kali, 18,32 kali, dan 21,93 kali.
Alfred juga menyarankan agar investor melirik saham-saham sektor pendukungnya. "Penambahan distribusi listrik yang diiringi dengan kenaikan pendapatan masyarakat bisa meningkatkan permintaan telekomunikasi dan barang-barang elektronik, maka saham yang bersangkutan dengan dua sektor tersebut bisa menjadi perhatian. Sektor jasa transportasi udara juga boleh. Infrastruktur lapangan udara soalnya juga terus dikembangkan," papar Alfred.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, mengakui adanya sentimen serupa. "Reslisasinya belum tahu seperti apa, tapi secara sentimen memang positif," imbuhnya.
Realisasi yang dimaksud Reza adalah, beberapa proyek Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang belum berjalan. Tapi, jika semua proyek bisa direalisasikan dengan baik maka emiten-emiten konstruksi memiliki potensi kinerja yang baik sehingga sahamnya boleh dijadikan pertimbangan.
Soalnya, semua proyek pembangunan infrastruktur itu dikerjakan oleh emiten konstruksi. "Sementara wait and see sambil cermati level support menarik dari saham-saham seperti ADHI, WIKA, JSMR," pungkas Reza.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News