kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Analis: Harga minyak mentah capai US$ 51 per barel


Jumat, 20 Oktober 2017 / 18:20 WIB


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meredanya ketegangan di Timur Tengah serta prospek kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) berpotensi menyebabkan harga minyak mentah turun. Hingga akhir tahun, analis melihat harga komoditas ini bakal mencapai US$ 51 dengan kecenderungan turun.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (20/10) pukul 18.15 WIB, harga minyak mentah west texas intermediate (WTI) untuk kontrak November 2017 turun 0,90% ke level US$ 50,83 per barel.

Ibrahim, Direktur Garuda Berjangka memprediksi, harga minyak mentah WTI akan berada di US$ 51 per barel dengan kecenderungan menurun. Menurut dia, ketegangan di Timur Tengah akan mereda dan ada sinyal bagus dari bank sentral Amerika Serikat. "The Fed menaikkan suku bunga, dan sepertinya tidak jadi perang Irak dan Iran," jelas Ibrahim saat dihubungi KONTAN, hari ini.

The Fed nampaknya akan positif menjalankan December Hike Rate, atau menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini untuk mendorong perekonomian AS. Sedangkan ketegangan antara Irak dan Iran yang dimaksud adalah ketegangan yang terjadi di lapangan minyak Kirkuk di Irak yang berasal dari serangan militan suku Kurdi yang menuntut kemerdekaan.

Iran telah menolak referendum yang diajukan Kurdi. Dengan demikian, Teheran berdiri bersama Baghdad lantaran demi menahan stabilitas area Timur Tengah tersebut. Ibrahim melihat hingga saat ini belum ada sentimen politik yang benar-benar akan menyebabkan perang kembali pecah. "Nyatanya, Kurdi dan Irak tidak perang," jelas Ibrahim.

Sedangkan mengenai tekanan AS pada sanksi yang akan diberikan pada Iran yang memiliki reaktor nuklir, Ibrahim melihat, sanksi yang digemborkan Trump akan hanya menjadi sebatas retorika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×