Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.105
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Adaro ikut terkena imbas blokade sungai Barito

Kamis, 12 Juni 2014 / 04:36 WIB

Adaro ikut terkena imbas blokade sungai Barito

JAKARTA. Aktivitas distribusi barang, termasuk batubara, melalui Sungai Barito terganggu. Sebab, sejak 5 Juni lalu, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala menutup jalur pelayaran di sungai terbesar di Kalimantan Selatan itu.

Penutupan tersebut berdasarkan instruksi Bupati Barito Kuala Nomor 180/1258/Hukum perihal Penegasan Pelaksanaan Wajib Pandu di Perairan Wajib Pandu Parabahan tertanggal 26 Mei 2014 (KONTAN, 11 Juni 2014).


Alhasil, blokade itu ikut mempengaruhi aktivitas produsen batubara yang biasa memanfaatkan Sungai Barito sebagai jalur distribusi komoditas batubara.

Produsen batubara yang terkena dampak blokade Barito adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO). "Adaro terkena dampak paling besar terhadap penutupan Sungai Barito," ungkap Andre Varian, analis Ciptadana Securities, kepada KONTAN, Rabu (11/6).

Sebab, lokasi tambang batubara ADRO berlokasi di Kabupaten Balangan, di mana jalur angkut atau distribusi batubara ini melewati Kabupaten Tabalong, Kabupaten Barito Timur, dan Kabupaten Barito Selatan. Aliran sungai Barito melalui wilayah tersebut.

Berdasarkan penelusuran KONTAN, pada 2012, sungai Barito dilewati kapal tongkang yang membawa 72 juta ton batubara. Dari jumlah itu, 22,5 juta ton milik ADRO.

Namun, kata Andre, efek penutupan Barito tak terlalu besar bagi kinerja Adaro tahun ini. "Blokade sungai Barito, secara persentase hanya berefek kurang dari 5% terhadap target pendapatan Adaro tahun ini," tutur dia. Pada 2014, ADRO menargetkan produksi batubara 54 juta hingga 60 juta ton.

Blokade Barito juga bersifat sementara sehingga tidak menganggu distribusi jangka panjang. Toh, Adaro sudah memperbaiki cycle-time atau waktu yang diperlukan sebuah kapal pengangkut batubara hingga kembali lagi ke pelabuhan. "ADRO telah mengurangi cycle-time sehingga meminimalkan penggunaan bahan bakar," kata Andre.

William Surya Wijaya, analis Asjaya Indosurya Securities, berpendapat sama. "Efeknya hanya sementara. Justru penutupan Barito lebih mengganggu bisnis perdagangan umum ketimbang batubara," kata dia, yang menrekomendasikan buy ADRO dengan target Rp 1.700 per saham.

Manajemen Adaro hingga kemarin belum memberikan tanggapan resmi terkait penutupan jalur pelayaran sungai Barito. Direktur Utama ADRO Garibaldi Thohir tidak merespons panggilan telepon dan pesan singkat dari KONTAN.

Sedangkan, Corporate Communications ADRO Devindra Ratzarwin menyatakan, akan menelusuri terlebih dahulu kabar blokade sungai Barito. "Saya coba tanyakan ke tim dulu," ungkap dia.

Adapun, emiten batubara lain, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN), menyatakan blokade itu tak berimbas ke perusahaan. Sebab, jalur distribusinya tak melewati Sungai Barito. "Tapi Mahakam," kata Jenny Quantero, Direktur BYAN. BYAN dan BUMI memiliki sejumlah tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Tapi, kebanyakan tambang mereka berlokasi di Kaltim.


Reporter: Cindy Silviana Sukma
Editor: Sandy Baskoro
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0439 || diagnostic_web = 0.3172

Close [X]
×