kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

Ada Risiko Gangguan Produksi, Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Volatil


Rabu, 26 Agustus 2026 / 17:49 WIB
Ada Risiko Gangguan Produksi, Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Volatil
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Orhan Qereman)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Namun, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap volatil dalam beberapa bulan ke depan karena pasar masih mencermati proses normalisasi pasokan dan risiko gangguan produksi di Timur Tengah.

Mengacu data Bloomberg, harga West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 80,05 per barel, turun 2,31%. Sementara harga Brent tercatat US$ 85,96 per barel, melemah 2,62% pada Rabu (26/8/2026) pukul 16.52 WIB.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, harga minyak masih berpotensi bergerak dalam rentang tertentu karena kondisi pasokan belum sepenuhnya kembali normal.

"Untuk beberapa bulan ke depan, harga minyak masih volatile dan cenderung bergerak dalam range, karena pasar harus menyeimbangkan kemungkinan normalisasi pasokan dengan kenyataan bahwa gangguan di Timur Tengah belum sepenuhnya selesai," kata Lukman.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Sideways, Demo 27 Agustus Jadi Sorotan Pasar

Menurut Lukman, peluang penurunan harga masih terbuka seiring dengan pemulihan pasokan. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan harga Brent berada di sekitar US$ 85 per barel pada kuartal III 2026 sebelum turun menuju US$ 78 per barel pada kuartal IV, seiring pulihnya lalu lintas di Selat Hormuz dan produksi minyak.

Namun, pemulihan pasokan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu. EIA memperkirakan sebagian produksi minyak Timur Tengah yang saat ini terganggu baru akan pulih secara signifikan pada awal 2027.

Di sisi lain, kondisi pasokan yang masih terbatas membuat harga minyak rentan terhadap gangguan baru. Apabila terjadi gangguan terhadap tanker maupun ekspor minyak, harga berpotensi kembali melonjak dalam waktu singkat.

"Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau terjadi kembali gangguan terhadap tanker dan ekspor minyak, harga dapat melonjak dengan cepat karena persediaan global sudah cukup tertekan," ujar Lukman.

Lukman menyebut, perkembangan Selat Hormuz dan konflik Timur Tengah masih menjadi sentimen utama yang menentukan arah harga minyak. Selain itu, pasar akan mencermati kebijakan OPEC+, tingkat produksi Amerika Serikat, persediaan minyak global, serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Untuk akhir 2026, Lukman memperkirakan, harga minyak WTI berada di kisaran US$ 70–85 per barel, sedangkan Brent sekitar US$ 80–90 per barel. Harga berpotensi bergerak menuju batas bawah apabila pembukaan kembali Selat Hormuz berjalan lancar.

Sebaliknya, eskalasi baru yang mengganggu pasokan dapat mempersempit ruang pelemahan harga. Brent bahkan berpotensi kembali menembus US$ 100 per barel apabila gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.

Dengan demikian, arah harga minyak hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada kecepatan pemulihan pasokan dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Normalisasi pasokan dapat menjaga tekanan terhadap harga, sementara gangguan baru berpotensi memicu kenaikan tajam.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Rawan Terkoreksi pada Kamis (27/8), Ini Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×