kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Ada new normal, begini dampaknya ke IHSG


Selasa, 26 Mei 2020 / 19:08 WIB
ILUSTRASI. Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat dibukanya perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia.


Reporter: Kenia Intan | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Selasa (26/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 26,55% ke level 4.626,8.

Jika dicermati, penurunan paling dalam sejauh ini terjadi di  Maret 2020, hingga 16,76% Month on Month (MoM). Sehingga pada saat itu secara tahunan IHSG menurun sampai 27,95% ke level 4.538,93. 

Penurunan yang cukup drastis itu tidak terlepas dari pengumuman kasus pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. Kemudian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk jaga jarak atau physical distancing dan akhirnya menandatangani aturan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di akhir Maret 2020.

Baca Juga: Di tengah pandemi Covid-19, investor domestik dominasi pasar saham

Untuk saat ini, pemerintah telah menerbitkan protokol kenormalan baru atau new normal untuk menghadapi pandemi Covid-19.  Berdasar catatan Kontan.co.id, protokol itu muncul untuk memfasilitasi perkantoran yang sebelumnya tidak beroperasi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Adapun Protokol tersebut dimuat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020.

Melihat hal ini, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai pelonggaran PSBB di tengah kasus yang tetap meningkat bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar. 

"Di dunia dan Indonesia itu sama, gelombang kedua Covid-19 menjadi isu pertama," jelas Hans Kwee ketika dihubungi Kontan.co.id, Selasa (26/5).  

Meskipun, sejauh ini ia mengamati belum ada tanda-tanda kemunculan gelombang kedua Covid-19. Selain itu, pasar juga mengkhawatirkan daya beli masyarakat di tengah pelonggaran PSBB yang terwujud dalam protokol normal baru. 




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×