Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Berbagai sentimen positif dari dalam negeri membuat risiko berinvestasi di Indonesia semakin minim. Hal ini tercermin pada angka credit default swap (CDS).
Mengacu Bloomberg pada Senin (7/12), CDS Indonesia tenor lima tahun turun 1,41% ketimbang posisi akhir pekan lalu menjadi 224,45. CDS lima tahun Indonesia sempat menyentuh angka 227,66 pada Jumat (4/12), level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Dibandingkan akhir tahun 2014, angka tersebut masih terbang 40,01% (ytd).
Pada Jumat (4/12), CDS Indonesia bertenor 10 tahun menyusut 0,92% dibandingkan hari sebelumnya ke level 306,08. Ytd, angka ini melambung 32,84%.
Semakin tinggi angka CDS, semakin riskan pula investasi di suatu negara. Sebaliknya, semakin rendah angka CDS, risiko berinvestasi di kawasan tersebut semakin kecil.
Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Anil Kumar menjelaskan, kenaikan angka CDS lima tahun Indonesia akhir pekan lalu disebabkan oleh optimisme dari pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Janet Yellen bahwa mereka akan mengerek suku bunga acuan pada pertengahan Desember 2015.
Namun, pelaku pasar mulai mencerna kabar ekspektasi suku bunga acuan Negeri Paman Sam tersebut. Makanya angka CDS menyusut di awal pekan.
“Investor mulai price in, masuk lagi ke Indonesia. Kalau suku bunga Amerika hanya naik 25 bps tidak bakal menggangu signifikan ke pasar dalam negeri,” tuturnya. Sebab, rencana The Fed merupakan isu lawas yang beredar sejak tahun 2013.
Anil menuturkan, katalis positif juga berasal dari aksi pemerintah yang meluncurkan paket kebijakan ekonomi VII akhir pekan lalu. Pemerintah memberikan insentif keringanan pajak penghasilan kepada industri padat karya dengan jumlah pegawai minimal 5.000 orang.
Analis Millenium Capital Management Desmon Silitonga berpendapat, ada beberapa faktor dari dalam negeri yang menekan risiko berinvestasi Indonesia. Pertama, terjaganya inflasi domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, inflasi dalam negeri Januari 2015 – November 2015 tercatat 2,37%.
Kedua, Bappenas memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia per kuartal IV 2015 sebesar 5,1%. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang pencapaian kuartal III 2015 sebesar 4,73%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













