Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan. Kenaikan yield surat utang Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS menjadi sentimen yang membebani rupiah, pasar obligasi, hingga pasar saham domestik dalam jangka pendek.
Tim Riset Syailendra Capital mencatat, yield US Treasury (UST) 10 tahun menembus level 5,20% pada Senin (28/9). Ini ialah kenaikan pertama kalinya dalam 19 tahun. Level yield tersebut mencerminkan tekanan jual yang semakin kuat di pasar obligasi AS.
Pada pekan lalu, yield US Treasury 10 tahun tercatat naik ke level 5,16%. Kenaikan yield tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah.
Baca Juga: Yield SUN Diprediksi Bergerak di 7,05%-7,20%, Seri FR0109 Masih Menarik
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 0,85% sepanjang pekan lalu ke level Rp 17.914 per dolar AS. Pada periode yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 101,03.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi domestik. Tim Riset Syailendra Capital mencatat yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke level 7,08%. Namun, pasar obligasi Indonesia masih mencatatkan foreign outflow sebesar Rp 2,27 triliun di sepanjang pekan lalu.
Sementara itu, tekanan lebih besar terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,1% sepanjang pekan lalu ke level 6.242, disertai aksi jual investor asing sebesar Rp 2,59 triliun.
"Pergerakan pasar domestik tersebut terjadi di tengah kinerja positif sejumlah indeks saham AS. S&P 500 menguat 0,7% dan Nasdaq naik 1,6% sepanjang pekan lalu. Namun, Dow Jones terkoreksi 0,6%," jelas Tim Riset Syailendra Capital dalam Weekly Update Research yang diterima Kontan, Senin (28/9/2026).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 23 September 2026.
Selain mempertahankan BI Rate, BI juga meningkatkan insentif foreign exchange (FX) hedging untuk menarik arus modal asing sekaligus memperkuat cadangan devisa. Meski demikian, Syailendra berpandangan, peningkatan diskon swap juga berpotensi memperbesar risiko forward book BI terhadap rupiah.
Dari sisi fiskal, DPR dan pemerintah telah menyepakati Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan target defisit tetap sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga: Saham GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) Anjlok 14% Jadi Rp 43 Hari Ini (28/9)
Belanja dan pendapatan negara dalam RAPBN 2027 masing-masing dinaikkan Rp 9,1 triliun. RAPBN tersebut dijadwalkan disahkan menjadi undang-undang pada 29 September 2026.
Sementara itu, DPR RI juga telah mengesahkan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria yang mengatur penataan dan pembatasan penguasaan tanah, penyelesaian konflik agraria, serta perlindungan hak masyarakat.
"Implementasi UU selanjutnya akan menjadi kunci, terutama dalam memastikan redistribusi tanah, kepastian hukum, serta perlindungan bagi petani dan kelompok masyarakat penerima manfaat," terang riset tersebut.
Dari eksternal, perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir dalam tujuh hari.
Trump juga memperkirakan kemungkinan dimulainya kembali serangan AS setelah pemilu sela November. Di sisi lain, eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi masih berlanjut.
Meski terdapat harapan terhadap solusi diplomatik, harga minyak kembali meningkat. Harga WTI berada di sekitar US$ 92 per barel, sementara Brent mencapai sekitar US$ 104 per barel.
Baca Juga: IHSG Turun 0,46% ke 6.213 Awal Perdagangan Senin (28/9) Pagi, Saham GOTO Anjlok 14%
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar Indonesia karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting. Pada 1 Oktober 2026, investor akan menantikan rilis Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan inflasi Indonesia.
Dari AS, Global Manufacturing PMI juga akan dirilis pada 1 Oktober, disusul data non-farm payroll dan tingkat pengangguran pada 2 Oktober 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














