kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.012   53,00   0,30%
  • IDX 5.886   -16,34   -0,28%
  • KOMPAS100 775   -7,40   -0,95%
  • LQ45 587   -2,64   -0,45%
  • ISSI 201   -0,63   -0,31%
  • IDX30 334   -0,77   -0,23%
  • IDXHIDIV20 414   0,55   0,13%
  • IDX80 88   -0,64   -0,72%
  • IDXV30 110   -0,60   -0,54%
  • IDXQ30 108   0,47   0,44%

Yield SBN Naik, Investor Kian Selektif Memilih Obligasi Korporasi


Kamis, 11 Juni 2026 / 18:15 WIB
Yield SBN Naik, Investor Kian Selektif Memilih Obligasi Korporasi
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di BRI Danareksa Sekuritas, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan dan yield Surat Berharga Negara (SBN) membuat investor semakin selektif dalam menempatkan dana di pasar surat utang.

Meski demikian, kondisi tersebut belum memicu perpindahan besar-besaran dari obligasi korporasi ke SBN.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai kondisi saat ini lebih mencerminkan pergeseran preferensi ke instrumen yang dinilai lebih aman dan likuid, ketimbang perpindahan penuh dari obligasi korporasi.

Menurutnya, kenaikan BI-Rate menjadi 5,50% dan yield SBN membuat instrumen pemerintah semakin kompetitif karena menawarkan risiko kredit yang lebih rendah dengan tingkat imbal hasil yang lebih menarik dibanding sebelumnya.

Baca Juga: Kenaikan BI Rate dan Yield SBN Turut Menekan Pasar Obligasi Korporasi

"Investor dengan profil konservatif akan membandingkan tambahan yield obligasi korporasi dengan risiko kredit, likuiditas, dan potensi volatilitas harga yang harus ditanggung," ujar Ahmad kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Ia menjelaskan, dukungan terhadap pasar SBN domestik masih cukup kuat. Per 4 Juni 2026, kepemilikan SBN terbesar masih berasal dari Bank Indonesia (BI) yang mencapai Rp 1.863,61 triliun. Sementara itu, bank umum memegang SBN senilai Rp 1.216,03 triliun.

Selain itu, perusahaan asuransi dan dana pensiun juga menjadi investor utama dengan kepemilikan mencapai Rp 1.400,84 triliun.

Menurut Ahmad, karakter kewajiban jangka panjang yang dimiliki kedua institusi tersebut membuat SBN menjadi instrumen yang sesuai karena menawarkan risiko yang relatif rendah.

Meski demikian, Ahmad menegaskan obligasi korporasi tidak otomatis kehilangan daya tarik. Hal itu tercermin dari penerbitan obligasi korporasi yang masih meningkat hingga Mei 2026, terutama dari emiten berperingkat tinggi yang memiliki kebutuhan refinancing.

Baca Juga: BI Rate Naik, Akankah Yield SBN 10 Tahun Berbalik Turun?

"Yang berubah adalah preferensi investor. Mereka menjadi lebih selektif, lebih menuntut kompensasi kupon yang memadai, dan cenderung memprioritaskan emiten berkualitas tinggi dibandingkan emiten dengan profil risiko lebih lemah," kata Ahmad.

Ahmad menambahkan, kelompok investor seperti reksadana cenderung lebih sensitif terhadap perubahan profil risiko dan imbal hasil dibandingkan investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun.

Per 4 Juni 2026, reksadana tercatat masih memiliki kepemilikan SBN senilai Rp 259,74 triliun. Namun, kelompok investor ini cenderung lebih aktif melakukan rotasi portofolio sesuai perubahan kondisi pasar.

Menurut Ahmad, ketika yield SBN belum dianggap cukup menarik dibandingkan instrumen lain, sebagian manajer investasi berpotensi mencari peluang di obligasi korporasi, khususnya yang diterbitkan emiten berperingkat tinggi dan masih menawarkan spread menarik di atas SBN.

Kendati demikian, langkah tersebut tidak bisa diartikan sebagai perpindahan penuh ke obligasi korporasi. Pasalnya, manajer investasi tetap harus mempertimbangkan risiko durasi, likuiditas, serta potensi redemption saat yield bergerak naik.

Baca Juga: Yield SBN Tembus 7,5%, Ekonom: Kejelasan Arah Fiskal Lebih Penting bagi Investor

"Biasanya yield SBN yang tinggi menjadi peluang bagi investor konservatif seperti asuransi dan dana pensiun untuk masuk. Sementara manajer investasi tetap akan selektif dengan mempertimbangkan ekspektasi risiko dan arah suku bunga ke depan," ujar Ahmad.

Senada, Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat adanya kecenderungan sebagian investor konservatif mengalihkan dana ke SBN. Menurutnya, yield SBN yang kini lebih kompetitif, ditambah profil risiko yang lebih rendah, membuat instrumen tersebut semakin menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Ada kecenderungan ke arah tersebut, terutama bagi investor yang lebih konservatif. Yield SBN yang kini lebih kompetitif, ditambah profil risikonya yang lebih rendah, menjadikannya alternatif yang lebih menarik dibanding obligasi korporasi," ujar David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×