Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50% diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan pasar Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor 10 tahun yang saat ini telah berada di level tinggi.
Tercatat, yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,4% pada Rabu (10/6). Sejalan dengan kenaikan BI-Rate, rupiah pada pukul 12.15 WIB bergerak menguat 0,51% menjadi Rp 17.966 dibandingkan hari sebelumnya.
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, mengatakan kenaikan BI Rate akan mendorong pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga dan kondisi likuiditas ke depan. Meski dalam jangka pendek langkah tersebut dapat memicu penyesuaian yield, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah.
Baca Juga: IHSG Naik 2,34% ke 5.881 Sesi I Rabu (10/6), Saham DEWA, BRPT, BBNI Jadi Top Gainers
"Jika level yield dinilai sudah cukup menarik dan sentimen terhadap rupiah mulai mereda, maka peluang masuknya kembali aliran dana ke SBN bisa membantu menahan kenaikan yield lebih lanjut," ujar Putri kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Di sisi lain, Putri melihat kenaikan yield SBN yang terjadi saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga global, konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, hingga meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, persepsi investor terhadap risiko fiskal, serta arah kebijakan ekonomi turut mempengaruhi besarnya premi risiko yang diminta investor.
"Untuk saat ini, pergerakan rupiah menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena dapat mencerminkan perubahan persepsi risiko investor terhadap aset rupiah, termasuk SBN," jelasnya.
Putri menambahkan, pelebaran spread antara BI Rate dan yield SBN tenor 10 tahun yang terjadi saat ini juga mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor.
Baca Juga: Fasset Perkenalkan Kartu Pembayaran Berbasis Stablecoin, Dipakai di 150 Juta Merchant
Ia menjelaskan, secara normal yield SBN tenor panjang memang memiliki spread terhadap BI Rate sebagai kompensasi atas risiko durasi, inflasi, dan ketidakpastian jangka panjang. Namun dalam kondisi saat ini, spread yang lebih lebar menunjukkan pasar meminta premi risiko yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.
"Jadi bukan berarti pasar kehilangan kepercayaan sepenuhnya, tetapi lebih mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian," katanya.
Ke depan, prospek yield SBN tenor 10 tahun masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kejelasan arah kebijakan ekonomi domestik.
Menurut Putri, apabila tekanan global mereda, rupiah kembali stabil atau menguat, dan komunikasi kebijakan fiskal maupun moneter semakin jelas, maka yield SBN berpeluang turun dari level saat ini.
Sebaliknya, jika ketidakpastian global dan domestik masih berlanjut, yield berpotensi bertahan pada level tinggi karena investor tetap meminta kompensasi risiko yang lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













