Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan yield atau imbal hasil SBN diprediksi bergerak sideways pada semester II – 2026 karena dipengaruhi sentimen geopolitik global, suku bunga global hingga kebijakan fiskal domestik. Mengutip data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN tenor 10 tahun di level 7,24%. Sementara yield SBN tenor 5 tahun di level 7,20%.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, prospek yield obligasi negara pada semester kedua 2026 pergerakannya cenderung sideways dengan bias turun secara bertahap. Ruang penurunan tetap ada, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda sehingga tekanan terhadap harga minyak berkurang dan rupiah menjadi lebih stabil.
Namun, penurunannya kemungkinan tidak terlalu dalam karena suku bunga global masih relatif tinggi dan pemerintah tetap memiliki kebutuhan penerbitan SBN yang besar untuk pembiayaan APBN.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham ENRG, AADI, dan AMRT untuk Jumat (7/8)
Dalam kondisi seperti ini, Yusuf melihat SBN tenor menengah sekitar lima tahun hingga tujuh tahun masih menjadi pilihan yang menarik karena menawarkan carry yang kompetitif dengan risiko durasi yang lebih terjaga dibandingkan tenor panjang.
“Investor juga dapat menerapkan strategi laddering agar arus kupon lebih merata, sekaligus memanfaatkan kenaikan yield jangka pendek untuk melakukan akumulasi secara bertahap,” ucap Yusuf kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).
Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana menyatakan bahwa kepercayaan terhadap sektor fiskal akan jadi momentum utama pergerakan yield SBN. Jika pengelolaan fiskal membaik, maka diperkirakan akan mampu mengundang masuknya dana asing ke SBN. Masuknya dana asing ke SBN juga harus dibantu dengan tingkat nilai tukar yang stabil dan inflasi yang stabil.
Terkait strategi investasi, Fikri menyarankan dilakukannya barbel strategy antara SBN tenor pendek (tenor 1 tahun sampai 3 tahun) dan SBN tenor panjang. Sebab, melihat kondisi market yang belum stabil, tidak ada salahnya memanfaatkan momentum tingginya suku bunga jangka pendek.
Di saat yang sama Fikri melihat prospek jangka panjang akan ada penurunan Fed rate atau BI rate dalam 2 tahun atau 3 tahun ke depan. Sehingga harusnya berdampak pada yield yang turun untuk SBN tenor jangka panjang
“Sehingga tidak ada salahnya untuk mulai memanfaatkan/memilih SBN tenor panjang, khususnya yang menurut kami cukup menarik adalah SBN tenor 15 tahun sampai 20 tahun,” ucap Fikri.
Yusuf memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun pada akhir 2026 berada di kisaran 6,9% hingga 7,2%. Sedangkan yield SBN tenor 5 tahun berpotensi bergerak di kisaran 6,8% hingga 7,1%, selama kondisi global tidak mengalami tekanan yang lebih besar. Sementara, Fikri memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun berkisar 6,95% – 7,35% pada akhir tahun 2026.
Baca Juga: Rupiah Menguat, Pelaku Pasar Bersiap Menanti Putusan FTSE Russell
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
