Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau. Melansir Bloomberg pada Kamis (6/8/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat Rp 10 atau 0,06% menjadi Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga ditutup menguat 0,1% menjadi Rp 17.919 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah hari ini masih didorong oleh realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026.
Baca Juga: AUM Reksadana Masih Terkoreksi, Manajer Investasi Siapkan Strategi Kejar Pertumbuhan
Menurutnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% yoy pada kuartal I-2026, tetapi tetap lebih tinggi dari proyeksi. Sehingga, menjadikan pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I-2026 mencapai 5,45%, sekaligus memberikan sentimen positif bagi rupiah.
“Pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Ibrahim, Kamis (6/8/2026).
Di sisi lain, Ibrahim mengatakan, perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, tetapi juga pengumuman FTSE Russell yang dijadwalkan berlangsung pada 10-14 Agustus 2026.
Menurutnya, status pembekuan (freeze) Indonesia dalam indeks FTSE Russell diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat. Meski regulator dan OJK telah melakukan berbagai reformasi pasar modal, langkah tersebut dinilai belum menjamin perubahan sikap FTSE Russell maupun MSCI dalam waktu dekat.
Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026. Sedangkan hasil peninjauan indeks kuartalan MSCI akan diumumkan pada 13 Agustus 2026 dan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
"Oleh karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar," katanya.
Baca Juga: United Tractors (UNTR) Masih Tekanan: Prospek Ditopang RKAB dan Tambang Martabe
Ia menambahkan, besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka kelola. Aset kelolaan pasif indeks MSCI mencapai sekitar US$ 5 miliar, jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki aset kelolaan pasif sekitar US$ 1,5 miliar hingga US$ 2 miliar.
Untuk perdagangan Jumat (7/8/2026), Ibrahim memperkirakan, fokus investor akan beralih ke data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), terutama laporan nonfarm payrolls, yang dinilai akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sebelumnya, laporan ADP National Employment menunjukkan perlambatan perekrutan tenaga kerja sektor swasta pada Juli. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan resmi AS.
Ibrahim memproyeksikan, rupiah pada perdagangan Jumat (7/8/2026) bergerak di kisaran Rp 17.920-Rp 17.970 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
