Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar Yen Jepang terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah.
Mengutip Trading Economics Kamis (23/7/2026) pukul 17.05 WIB, pasangan valuta asing (valas) USD/JPY di level 163,36, naik 4,21% secara year to date (ytd). Melemahnya Yen Jepang dinilai membuka peluang investor melakukan carry trade.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan, melemahnya yen membuat praktik carry trade kembali menarik. Investor meminjam dana dalam yen dengan bunga yang relatif rendah, kemudian menginvestasikannya ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah AS maupun aset di negara berkembang.
Baca Juga: Hermina (HEAL) Proyeksikan Kinerja Semester II-2026 Tetap Tumbuh, Fokus Efisiensi
Saat ini carry trade masih cukup kuat karena selisih suku bunga Jepang dan AS masih lebar. Bahkan banyak investor global telah membangun posisi carry trade sejak tahun 2022 sehingga telah memperoleh keuntungan dari selisih bunga (swap) selama beberapa tahun.
“Selama Bank of Japan (BoJ) belum melakukan normalisasi kebijakan secara agresif, strategi ini masih berpotensi terus berlangsung meskipun volatilitas pasar meningkat akibat konflik geopolitik,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).
Brahmantya melihat carry trade biasanya meningkatkan aliran modal ke emerging market karena investor mencari aset dengan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan biaya pinjaman dalam yen. Namun perlu diingat, arus dana ini bersifat oportunistis.
Ketika terjadi peningkatan volatilitas global, eskalasi geopolitik, atau BoJ mulai menaikkan suku bunga lebih agresif, investor dapat menutup posisi carry trade dengan cepat sehingga memicu capital outflow dari negara berkembang.
Menurut Brahmantya, Indonesia masih memiliki peluang memperoleh manfaat karena menawarkan imbal hasil obligasi yang relatif menarik dibanding negara maju. Jika sentimen global stabil dan rupiah tidak mengalami tekanan yang terlalu besar, peluang masuknya dana asing ke pasar obligasi maupun saham Indonesia tetap terbuka.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah Terbatas Jumat (24/7), Investor Mulai Ambil Untung
Namun investor global juga masih mempertimbangkan beberapa faktor lain seperti penguatan dolar AS, konflik AS-Iran, harga minyak yang meningkat, serta arah kebijakan The Fed.
“Oleh karena itu, saya melihat aliran dana asing ke Indonesia masih akan bersifat selektif, terutama pada instrumen yang memiliki fundamental kuat,” terang Brahmantya.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit mengatakan, melemahnya Yen Jepang umumnya membuat praktik carry trade semakin menarik. Hal ini karena investor dapat meminjam dana dalam Yen yang memiliki suku bunga relatif rendah, kemudian mengalokasikannya ke aset atau mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Selama Bank of Japan masih mempertahankan kebijakan moneter yang relatif longgar dibandingkan bank sentral utama lainnya, minat terhadap strategi carry trade berpotensi tetap tinggi.
“Namun, investor juga perlu mewaspadai risiko apabila Yen tiba-tiba menguat akibat perubahan kebijakan Bank of Japan atau meningkatnya ketidakpastian global,” ujar Geraldo.
Geraldo menyarankan investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada selisih suku bunga (interest rate differential), tetapi juga memperhatikan potensi pergerakan nilai tukar. Carry trade akan lebih optimal ketika mata uang pendanaan, seperti Yen, cenderung stabil atau terus melemah, sementara mata uang tujuan tetap didukung oleh suku bunga yang tinggi.
Selain itu, investor perlu menerapkan manajemen risiko yang disiplin, seperti menggunakan stop loss, membatasi ukuran posisi, serta memantau perkembangan kebijakan moneter Bank of Japan, Federal Reserve, dan bank sentral lainnya.
Baca Juga: Prospek SMGR Andalkan Permintaan Domestik, Oversupply Masih Jadi Tantangan
Geraldo melihat valas yang bisa dicermati investor ketika melakukan carry trade dengan Yen Jepang. Yakni pasangan valas USD/JPY, karena masih didukung oleh selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang yang relatif lebar.
Kemudian, pairing valas AUD/JPY, yang menarik ketika suku bunga Australia berada di level lebih tinggi dan sentimen terhadap aset berisiko membaik. Serta pasangan valas NZD/JPY, yang juga sering dimanfaatkan investor karena menawarkan imbal hasil yang relatif tinggi dibandingkan Jepang.
Brahmantya menilai pelemahan yen masih berpotensi berlanjut selama selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat masih lebar. Meskipun Bank of Japan telah menaikkan suku bunga ke 1% level tertinggi sejak 1995 biaya pinjaman (tingkat suku bunga) di Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan AS sehingga praktik carry trade tetap menarik.
Selain itu, konflik AS-Iran yang telah memasuki lebih dari sepuluh hari serangan berturut-turut, ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, serta terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi di AS dan membuat pasar kembali memperhitungkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada semester II-2026. Hal ini menjadi faktor yang terus mendukung penguatan dolar terhadap yen.
Dalam jangka pendek, Brahmantya melihat ada peluang penguatan sementara yen apabila pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing. Menteri Keuangan Jepang telah menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil tindakan jika pergerakan yen dianggap berlebihan. Namun, intervensi tersebut hanya akan memberikan efek jangka pendek.
Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi, Pengamat Beberkan Penyebab dan Proyeksi Perdagangan Jumat (24/7)
Brahmantya memperkirakan pasangan valas USD/JPY masih berpotensi bergerak di kisaran 165 – 170 hingga akhir 2026. Yen baru berpeluang menguat secara lebih berkelanjutan apabila Bank of Japan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya atau The Fed mulai memberikan sinyal penurunan suku bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














