kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Waspadai efek krisis keuangan Argentina, tapi jangan panik


Jumat, 25 Mei 2018 / 08:14 WIB
Waspadai efek krisis keuangan Argentina, tapi jangan panik
ILUSTRASI. Lembaran Mata Uang Rupiah dan US Dolar


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis keuangan di Argentina memantik kekhawatiran negara emerging market lainnya berpotensi mengalami kondisi serupa. Sebab, aliran dana asing diprediksi masih bakal keluar dari emerging market.

The Institute of International Finance (IIF) menyebutkan, kebijakan The Federal Reserves menaikkan suku bunga memberikan tekanan pada negara lain untuk memperketat kebijakan moneter dan mengurangi likuiditas dollar AS. Robin Brooks, Kepala Ekonom IIF, menulis dalam laporannya, krisis di Argentina bisa menjadi indikasi awal hal yang sama terjadi di tempat lain.

Nah, banyak pengamat menilai Indonesia juga termasuk salah satu negara yang berpotensi terdampak. Sama seperti Argentina, kurs rupiah tertekan ke level terendah. Rupiah sudah melemah 4.,09% sejak awal tahun.

Sekadar informasi, peso Argentina sempat melemah hingga 34,16% sejak awal tahun menjadi US$ 24,98 per dollar AS, Kamis (24/5). Jumat lalu, bank sentral Argentina terpaksa mengerek suku bunga jadi 40% dari 33,25% demi menahan kejatuhan peso, sehari setelah suku bunga dinaikkan dari sebelumnya 30,25%. Seminggu sebelumnya, suku bunga Argentina masih 27,25%.

Masih berisiko

Pasar menilai kondisi Indonesia mirip, lantaran BI juga mengerek suku bunga jadi 4,5% demi menjaga kurs rupiah. BI juga masih berpotensi menaikkan suku bunga.

Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman menilai kondisi di Argentina memang bisa terulang di Indonesia. Ini bisa terjadi jika pemerintah tak mampu mengelola perekonomian dan anggaran negara dengan baik.

Ia menilai, idealnya defisit neraca berjalan tidak dibiayai oleh utang luar negeri, melainkan dari pendapatan pajak dan investasi asing di sektor riil. "Ini untuk mengurangi volatilitas pelarian modal asing jangka pendek," jelas dia, Kamis (24/5).

David Sutyanto, Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas Indonesia, melihat, pemerintah masih cenderung menitikberatkan kebijakan ekonomi dari sisi moneter ketimbang fiskal. Padahal, tak tercapainya target (shortfall) pajak masih terus saja terjadi. "Ini perlu diperbaiki," imbuh David.

Emiten juga tampak menahan ekspansi pada tahun ini. Hal ini terlihat dari berbagai aksi pembagian dividen. Tak sedikit emiten kelas kakap membagi dividen dalam jumlah besar. Ini menjadi sinyal emiten menahan laju ekspansi. Ada unsur ekspansi emiten dalam sebuah pertumbuhan ekonomi. "Karena kalau memang berekspansi, mereka menahan laba ketimbang membagikan dividen," imbuh David.

Norico berpendapat, kenaikan IHSG kemarin juga belum cukup kuat mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang solid. Stabilitas pasar kemungkinan baru terlihat pada semester dua nanti. "Jadi, IHSG yang naik kencang kemarin lebih karena technical rebound jangka pendek," tegas Norico.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×