kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Wall Street Jatuh Terseret Saham Walmart dan Home Depot, Selasa (21/2)


Selasa, 21 Februari 2023 / 23:41 WIB
Wall Street Jatuh Terseret Saham Walmart dan Home Depot, Selasa (21/2)
ILUSTRASI. Wall Street


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street turun lebih dari 1% pada hari Selasa (21/2). Prediksi suram capaian dari perusahaan ritel Home Depot dan Walmart telah menambah kekhawatiran bahwa kenaikan tajam suku bunga dan inflasi yang tinggi berdampak pada perekonomian Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, pukul 10:02 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 424,64 poin atau 1,26% ke 33.402,05, S&P 500 turun 47,46 poin atau 1,16% ke 4.031,63, dan Nasdaq Composite turun 165,27 poin atau 1,40 % pada 11.622,00.

Sepuluh dari 11 sektor S&P 500 jatuh, dengan indeks consumer discretionary merosot 2,1%.

Saham Home Depot Inc turun 5,4% ke level terendah tiga bulan setelah memperingatkan melemahnya permintaan dan merilis perkiraan laba masam untuk tahun 2023.

Saingannya yang lebih kecil, Lowe's Cos Inc turun 4,8% jelang rilis laporan pada minggu depan.

Saham Walmart, pengecer terbesar di dunia, turun 0,2% setelah memperkirakan pendapatan setahun penuh di bawah perkiraan. Selain itu melukiskan gambaran suram inflasi makanan yang lebih panas dari perkiraan. Kondisi ini akan menekan margin keuntungan Walmart

Baca Juga: Wall Street Tertekan Pada Selasa (21/2) Setelah Libur Panjang

"Walmart adalah pemimpin untuk mengetahui bagaimana keadaan konsumen dan faktanya adalah mereka membayangkan bahwa konsumen mungkin sampai pada titik harus mundur," kata Art Hogan, kepala analis di B Riley Wealth.

Sebagai informasi, Wall Street mulai menghijau sepanjang tahun ini setelah kinerja tahunan terburuk lebih dari satu dekade pada tahun 2022. Investor berharap siklus kenaikan suku bunga bank sentral mendekati titik akhir.

Namun, data ekonomi baru-baru ini menunjukkan ekonomi yang tangguh dengan inflasi jauh dari target The Fed sebesar 2%, meningkatkan taruhan untuk dua atau tiga kenaikan 25 basis poin lagi.

Bank sentral memiliki lebih banyak ruang gerak untuk menaikkan suku bunga karena aktivitas bisnis AS secara tak terduga pulih pada bulan Februari, menurut sebuah survei, didukung oleh sektor jasa yang kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×