kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.643   -93,00   -0,52%
  • IDX 6.321   -50,14   -0,79%
  • KOMPAS100 835   -8,61   -1,02%
  • LQ45 634   -1,06   -0,17%
  • ISSI 225   -2,60   -1,14%
  • IDX30 362   0,42   0,12%
  • IDXHIDIV20 450   3,17   0,71%
  • IDX80 96   -0,68   -0,70%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,67%
  • IDXQ30 118   1,02   0,87%

Permintaan Lahan Subang Smartpolitan Naik, Prospek Surya Semesta (SSIA) Masih Menarik


Rabu, 20 Mei 2026 / 13:56 WIB
Permintaan Lahan Subang Smartpolitan Naik, Prospek Surya Semesta (SSIA) Masih Menarik
ILUSTRASI. Subang Smartpolitan - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) (Dok/SSIA)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mulai menunjukkan perbaikan pada tiga bulan pertama tahun 2026. 

Emiten properti dan kawasan industri ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 1,44 triliun pada kuartal I-2026, naik 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,07 triliun.

Segmen jasa konstruksi menyumbang mayoritas ke pendapatan yaitu Rp 788,64 miliar. Lalu, segmen tanah kawasan industri menyumbang Rp 406,01 miliar, segmen hotel Rp 162,43 miliar, segmen jasa pemeliharaan dan utilitas Rp 84,22 miliar, dan segmen sewa Rp 4,67 miliar.

Seiring kenaikan pendapatan, SSIA juga berhasil membalikkan kinerja bottom line. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 89,01 miliar pada kuartal I-2026, berbanding terbalik dibanding rugi bersih Rp 21,70 miliar pada kuartal I-2025.

Baca Juga: Jelang Pengumuman BI Rate, Rupiah Menguat ke Rp 17.689 per Dolar AS

Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi menilai pertumbuhan SSIA masih ditopang kawasan industri Subang Smartpolitan yang terus mencatat permintaan tinggi, terutama dari sektor pusat data dan rantai pasok otomotif.

Hingga Mei 2026, permintaan lahan (inquiries) di kawasan tersebut mencapai 263 hektare, meningkat dibandingkan sekitar 160 hektare pada Desember 2025.

Arvin memperkirakan penjualan lahan SSIA berpotensi membaik pada 2026. Saat ini, perseroan memiliki backlog serah terima lahan sekitar 50 hektare senilai Rp 500 miliar yang akan diakui tahun ini. 

Selain itu, manajemen juga menargetkan prapenjualan 60 hektare dari kawasan Subang dan Karawang serta potensi penjualan lahan massal hingga 80-90 hektare di Subang. Dengan demikian, total potensi penjualan lahan diperkirakan mencapai 140-150 hektare.

"Kami percaya dimulainya pembangunan pabrik BYD sejak Juni 2025, penyelesaian jalan tol, dan status kawasan ekonomi khusus (KEK) akan menjadi katalis utama yang mengubah permintaan menjadi penjualan lahan," tulis Arvin pada riset 12 Mei 2026. 

Meski prospek jangka panjang dinilai tetap menarik, Bahana Sekuritas memangkas proyeksi laba bersih SSIA tahun 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 13,2% dan 12,8% menjadi Rp 344 miliar dan Rp 375 miliar.

Penyesuaian tersebut mempertimbangkan meningkatnya risiko konflik geopolitik Timur Tengah, kenaikan biaya konstruksi, dan biaya pembiayaan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, analis Henan Putihrai Sekuritas James Stanley Widjaja mengatakan, kinerja SSIA telah mencapai titik terendah pada 2025 dan mulai pulih pada 2026. 

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Tekan Emiten Farmasi, Margin Terancam Tergerus

Menurut James, salah satu pendorong utama berasal dari backlog penjualan lahan seluas 58,7 hektare senilai Rp 964,1 miliar yang akan dibukukan pada semester I-2026.

Selain itu, pembukaan kembali hotel Paradisus by Melia Bali setelah renovasi selama satu tahun diperkirakan memperkuat pendapatan berulang (recurring income) SSIA. 

"Manajemen memperkirakan hotel tersebut dapat mendorong pertumbuhan pendapatan sekitar 10% pada 2026," tulis James pada riset tanggal 27 April 2026.

Meski demikian, James mengingatkan konflik geopolitik Timur Tengah dan krisis energi global dapat menjadi risiko bagi SSIA.

Risiko tersebut antara lain berupa kenaikan biaya energi pada bisnis konstruksi, potensi penurunan wisatawan ke Bali akibat mahalnya tiket pesawat, hingga melemahnya permintaan hotel karena efisiensi anggaran pemerintah.

Namun, James menilai prospek Subang Smartpolitan sebagai pusat manufaktur baru Indonesia masih tetap kuat. Permintaan investasi di kawasan tersebut dinilai tetap stabil, terutama dari perusahaan teknologi, utilitas, dan otomotif asal China.

Menurutnya, para investor tersebut memiliki horizon investasi jangka panjang dan Indonesia berada pada posisi strategis untuk mendukung diversifikasi rantai pasok regional.

"Karena pasokan lahan industri di Greater Jakarta secara struktural terbatas, Subang Smartpolitan merupakan alternatif pusat industri jangka panjang yang menarik, dengan lahan luas yang tersedia untuk investor manufaktur skala besar," kata James.

 

James bahkan memangkas proyeksi laba per saham (EPS) SSIA tahun 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 45,8% dan 48,4% karena pecahnya konflik geopolitik dan krisis energi yang berpotensi berdampak negatif pada SSIA melalui berbagai saluran.

James mempertahankan rekomendasi beli untuk SSIA dengan target harga Rp 2.200 per saham dengan mempertimbangkan valuasi ke depan.

Kemudian, Arvin mempertahankan rekomendasi buy untuk SSIA dengan target harga Rp 2.300 per saham, turun dari sebelumnya Rp 2.500 per saham.

Penurunan target harga dilakukan seiring meningkatnya risiko geopolitik, potensi keterlambatan konversi permintaan lahan menjadi penjualan, serta tekanan pada bisnis konstruksi akibat kenaikan biaya material.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×