Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak pasar saham Indonesia akibat sentimen global, termasuk masuknya pasar Indonesia dalam daftar pantauan (watchlist) S&P Global, membuat investor perlu lebih cermat mengelola portofolio.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan peluang investasi, terutama karena valuasi sejumlah aset dinilai sudah cukup murah.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai tekanan dari S&P Global lebih berdampak pada sentimen pasar dibandingkan aliran dana asing secara langsung.
Baca Juga: Volatilitas Pasar Jadi Peluang, Sucor Sekuritas Bahas Strategi di Stock Idea Festival
Pasalnya, status watchlist belum merupakan keputusan final dan baru akan dievaluasi kembali. Menurut dia, investor tetap perlu melihat fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan, bukan hanya sentimen jangka pendek.
"Kalau kita tidak terlalu memperhatikan kebijakan pemerintah dan fokus pada valuasi, saya kira ini waktu yang bagus untuk beli. Namun, jangan berharap setelah beli bulan depan langsung naik,” ujar Rudiyanto kepada KONTAN pekan lalu saat berkunjung ke kantornya.
Menurut Rudiyanto, peluang pasar saham masih terbuka karena valuasi sejumlah saham telah terkoreksi cukup dalam. Bahkan, beberapa saham perusahaan besar memiliki tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) yang tinggi.
Ia menilai investor dapat mulai mengakumulasi aset secara bertahap, terutama dengan memperhatikan kualitas perusahaan dan kemampuan menghasilkan laba.
Untuk instrumen pendapatan tetap, investor perlu menyesuaikan strategi karena suku bunga yang masih tinggi membuat harga obligasi mengalami tekanan. Dalam kondisi tersebut, obligasi dengan tenor pendek dinilai lebih menarik untuk mengurangi risiko volatilitas.
Baca Juga: Strategi Investasi Milenial 2026: 5 Aset Aman Mulai dari Modal Kecil
Sementara itu, reksadana pasar uang menjadi salah satu pilihan karena masih mendapatkan keuntungan dari instrumen berbasis bunga seperti deposito dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Rudiyanto menyarankan investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu aset, melainkan melakukan diversifikasi sesuai profil risiko.
Investor konservatif dapat memperbesar porsi instrumen pasar uang, sedangkan investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat memanfaatkan peluang di saham, terutama sektor komoditas seperti energi dan logam yang masih memiliki prospek permintaan.
Selain pasar domestik, diversifikasi juga dapat dilakukan melalui aset global.
Menurut Rudiyanto, reksa dana berbasis dolar AS yang berinvestasi di pasar luar negeri dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko ketika pasar Indonesia mengalami tekanan.
Baca Juga: Mencermati Strategi Investasi Tepat di Tengah Ketidakpastian Global
Untuk investor dengan dana besar, ia menyebut sebagian portofolio dapat ditempatkan dalam aset dolar sebagai bentuk perlindungan terhadap volatilitas nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
