Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan daya tahan yang solid di tengah lonjakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara Amerika Serikat alias US Treasury (UST).
Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (24/9/2026), yield UST tenor 10 tahun tercatat melambung ke level 5,14%, sementara UST tenor 5 tahun berada di level 5%. Di saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) domestik justru cenderung melandai, dengan tenor 10 tahun berada di posisi 7,09% dan tenor 5 tahun bergerak di level 6,92%.
Divergensi arah pergerakan ini tergolong mencolok. Penurunan yield SBN saat UST melonjak membuat selisih (spread) yield SBN tenor 10 tahun terhadap UST 10 tahun menyempit hingga kisaran 189 basis poin (bps).
Baca Juga: Summarecon (SMRA) Siapkan Dana Rp 468 Miliar Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Oktober 2026
Level ini menjadi yang terketat sejak Indonesia kembali meraih status layak investasi (investment grade), serta berada jauh di bawah rata-rata historis jangka panjang yang berkisar 450 bps.
Penyempitan spread tersebut sejatinya tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di sebagian besar pasar negara berkembang (emerging markets).
Fenomena ini mencerminkan adanya penyesuaian harga (repricing) global terhadap risiko durasi utang AS, di tengah premi risiko negara berkembang yang dinilai relatif stabil.
Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan bahwa lonjakan yield UST 10 tahun ke level 5% memang menjadi sentimen penahan (headwind) bagi pasar SBN karena mempersempit yield spread dan meningkatkan opportunity cost bagi investor global.
Kendati demikian, ketahanan SBN domestik ditopang oleh kombinasi faktor internal yang kuat.
"Dari domestik, SBN tetap ditopang oleh stabilitas rupiah, permintaan investor domestik yang kuat, berlanjutnya foreign inflows, serta kondisi fiskal yang masih relatif terjaga," ujar Handy kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Sentimen positif juga datang dari kinerja APBN. Realisasi defisit anggaran hingga Agustus 2026 yang masih rendah memberikan keyakinan bahwa defisit fiskal sepanjang tahun dapat dijaga di bawah 3% dari PDB.
Selain itu, risiko pasokan SBN di sisa tahun ini tergolong terkendali karena pemerintah telah melakukan penarikan utang di awal (front loading), didukung oleh fleksibilitas Penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Daya tarik SBN turut didorong oleh masuknya kembali dana asing. Investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) selama enam pekan berturut-turut dengan akumulasi mencapai sekitar Rp 34 triliun.
Baca Juga: Insentif KLM Naik Jadi 6%, Simak Prospek Saham Bank Woori Saudara (SDRA)
Realisasi real yield Indonesia pun masih kompetitif dengan tingkat inflasi yang terjaga dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%.
Memasuki sisa tahun 2026, pergerakan yield SBN tenor 5 tahun dan 10 tahun diproyeksikan masih diwarnai volatilitas akibat ketidakpastian global, terutama terkait dinamika harga minyak dan tensi geopolitik.
Namun, arah yield diperkirakan bergerak mendatar (sideways) dengan kecenderungan menurun jika tekanan eksternal mereda.
Handy memproyeksikan yield SBN tenor 5 tahun berpotensi berada di kisaran 6,5%–6,7% pada akhir 2026, sedangkan yield SBN tenor 10 tahun diproyeksikan menguji level 6,8%–7,0%.
"Namun, pencapaian level tersebut sangat bergantung pada perkembangan global. Selama UST 10 tahun bertahan di sekitar atau di atas 5%, ruang rally SBN akan lebih terbatas. Sebaliknya, jika tekanan global mereda, rupiah tetap stabil dan foreign inflows berlanjut, yield SBN memiliki ruang untuk kembali turun," tegas Handy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














