kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Timur Tengah Memanas: Harga Minyak Menguat, Emas Justru Tertekan


Kamis, 26 Maret 2026 / 14:55 WIB
Timur Tengah Memanas: Harga Minyak Menguat, Emas Justru Tertekan
ILUSTRASI. Harga minyak menguat di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga komoditas global menunjukkan anomali di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Harga minyak mentah justru menguat, sedangkan emas sebagai aset safe haven cenderung melemah. 

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (26/3/2026) pukul 14.14 WIB, harga minyak mentah jenis WTI mengalami kenaikan sebesar 2,82% menjadi US$ 92,88 per barel. Kenaikan juga terjadi pada minyak jenis Brent yang menguat 2,63% menjadi US$ 104,87 per barel.

Sebaliknya, harga emas di pasar spot turun 1,84% menjadi US$ 4.448 per ons troi. 

Adapun, harga emas batangan bersertifikat PT Aneka Tambang (ANTM) bertahan di level Rp 2.850.000 per gram, tidak berubah dari harga perdagangan Rabu (25/3/2026).

Baca Juga: Kinerja Champion Pacific (IGAR) Moncer di 2025, Laba Bersih Tumbuh Dua Digit

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai pergerakan berlawanan ini mencerminkan fenomena decoupling atau pergerakan berlawanan yang sering kali menjadi sinyal adanya pergeseran fokus pasar.

"Emas saat ini lebih sensitif terhadap kebijakan moneter (suku bunga) dan fungsi safe haven akibat ketidakpastian politik," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Di sisi lain, kata Wahyu, harga minyak mentah lebih ditopang oleh faktor riil seperti dinamika supply-demand fisik dan risiko gangguan distribusi di jalur energi.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat sering kali menekan emas lebih dalam dibandingkan minyak.

Alasannya, karena minyak memiliki katalis tambahan berupa pemangkasan produksi atau konflik geopolitik yang bisa mengompensasi tekanan dari mata uang.

Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai kenaikan harga minyak mentah berpotensi memicu inflasi yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi maupun tingkat suku bunga The Fed naik.

Baca Juga: Laba Bank Jago (ARTO) Melonjak 115%, Begini Rekomendasi Analis Maybank Sekuritas

"Hal ini menekan aset yang tidak memiliki imbal hasil seperti emas," ujar Lukman.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan emas dan minyak diperkirakan masih akan dipengaruhi tarik-ulur antara kebijakan moneter global dan risiko geopolitik dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×