Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% menuntut kewaspadaan para pelaku pasar dalam mengelola portofolio kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin (BTC) berada di level US$ 81.340,99 atau naik 1,10% dalam 24 jam terakhir dengan kapitalisasi pasar US$ 1,63 triliun, sementara Ethereum (ETH) menguat 3,13% ke posisi US$ 2.661,34 dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 325,67 miliar.
Kebijakan pengetatan moneter ini secara umum berpotensi mengikis kondisi likuiditas dan meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil (yield).
Baca Juga: Ganti Menkeu, Cukai Rokok Diprediksi Tetap CGS Pertahankan Overweight Saham Rokok
Kendati demikian, dampak penyesuaian suku bunga tersebut tidak serta-merta direspons secara linier atau seragam oleh pasar kripto.
Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian menjelaskan bahwa respons pasar sangat bergantung pada sejauh mana keputusan tersebut sudah diantisipasi sebelumnya, ekspektasi arah kebijakan berikutnya, hingga dinamika arus dana dan sentimen pasar. Investor disarankan tetap disiplin serta menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk meredam potensi gejolak harga.
"Dalam kondisi tersebut, investor sebaiknya menjaga disiplin dalam menentukan posisi dan menyesuaikan eksposur dengan profil risiko masing-masing," kata Aloysia kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).
Dari perspektif analisis makro, Analis Reku Andri Fauzan menilai pelaku pasar perlu mencermati sinyal dot plot pejabat The Fed yang mengindikasikan potensi satu kali kenaikan suku bunga lagi di sisa tahun 2026.
Selain itu, pergerakan arus modal pada produk ETF spot, likuiditas pasar futures, hingga pergerakan imbal hasil obligasi dan dolar AS menjadi indikator krusial penentu risk appetite.
Guna menghadapi pengetatan likuiditas, Andri menyarankan strategi akumulasi bertahap di area support, menghindari penggunaan leverage tinggi, serta melakukan partial profit-taking saat harga mengalami rebound.
Baca Juga: Diastika (CHEK) Rampungkan Buyback 80 Juta Saham, Habiskan Dana Rp 11,98 Miliar
Di samping itu, Bitcoin disarankan menjadi aset prioritas dalam portofolio karena memiliki status store of value serta arus modal institusional yang relatif lebih stabil ketimbang Ethereum.
"Bitcoin umumnya lebih tahan dibanding Ethereum karena status store-of-value dan arus institusional yang lebih stabil," ujar Andri.
Sampai akhir 2026, Andri memperkirakan harga Bitcoin masih menyimpan ruang pemulihan dengan base case di kisaran US$ 110.000.
Namun, terdapat skenario koreksi ke level US$ 70.000–US$ 80.000 apabila The Fed bersikap lebih hawkish, serta skenario optimis jika pengetatan moneter segera berakhir.
Sementara itu, untuk Ethereum, potensi pergerakan harganya diproyeksikan berada pada rentang US$ 3.000–US$ 3.800.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














