kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.846   24,00   0,13%
  • IDX 6.100   -77,21   -1,25%
  • KOMPAS100 797   -11,41   -1,41%
  • LQ45 602   -7,73   -1,27%
  • ISSI 211   -1,94   -0,91%
  • IDX30 340   -4,62   -1,34%
  • IDXHIDIV20 417   -4,52   -1,07%
  • IDX80 90   -1,28   -1,40%
  • IDXV30 112   -0,53   -0,47%
  • IDXQ30 108   -1,64   -1,49%

The Fed Jadi Penentu Utama, Simak Prospek Mata Uang Asia pada 2026


Senin, 22 Juni 2026 / 11:50 WIB
The Fed Jadi Penentu Utama, Simak Prospek Mata Uang Asia pada 2026
ILUSTRASI. Keputusan The Fed masih menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap pergerakan mata uang Asia. (Masahiro Sugimoto/The Yomiuri Shimbun via Reuters)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah Federal Reserve (The Fed), atau bank sentral AS dinilai tetap menjadi jangkar utama yang menentukan aliran modal global dan arah pergerakan mata uang kawasan, termasuk rupiah.

Diketahui sejumlah bank sentral, yakni Bank of Japan (BoJ), Federal Reserve (The Fed), dan Bank Indonesia (BI), telah mengumumkan keputusan kebijakan moneternya dalam waktu yang berdekatan, sepekan kemarin.

Saat ini pasangan valuta asing (valas) USD/IDR pada Senin (22/6) pukul 11.20 WIB berada di level Rp 17.835 per dolar AS atau melemah 0,13% dalam sehari. Pada saat yang sama, USD/JPY naik 0,23% ke level 161,66, USD/CNY turun 0,04% ke 6,78, dan USD/SGD naik 0,11% menjadi 1,29.

Baca Juga: MSCI Bisa Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Ini Alasannya

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo meyebut, dari ketiga agenda tersebut, keputusan The Fed masih menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap pergerakan mata uang Asia, termasuk yen Jepang (JPY), yuan China (CNY), dolar Singapura (SGD), dan rupiah Indonesia (IDR).

"Sebagai acuan suku bunga global, setiap perubahan arah kebijakan maupun nada pernyataan The Fed akan menentukan aliran likuiditas dolar AS dan memengaruhi volatilitas pasar negara berkembang," ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Saat ini suku bunga acuan The Fed bertahan di level 3,50% hingga 3,75%. Menurutnya, kebijakan suku bunga The Fed juga akan memengaruhi langkah bank sentral di kawasan Asia dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang masing-masing.

Sutopo menjelaskan, apabila The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), maka mata uang Asia yang memiliki ketergantungan lebih besar terhadap pembiayaan asing berpotensi menghadapi tekanan lebih besar terhadap dolar AS.

Selain faktor suku bunga AS, pergerakan mata uang Asia pada paruh kedua 2026 juga akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen lain. 

Baca Juga: Indonesia Masih Kuat di MSCI Review 2026, Peluang Bertahan di Emerging Market

Mulai dari dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, perbedaan arah kebijakan moneter antarnegara, hingga normalisasi pertumbuhan ekspor setelah pelonggaran berbagai hambatan perdagangan global.

Adapun untuk rupiah, Sutopo menilai mata uang Garuda saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami tekanan. Ia berpandangan rupiah saat ini tidak lagi sepenuhnya berada dalam kondisi undervalued secara negatif. 

"Posisi rupiah saat ini tidak lagi sepenuhnya undervalued dalam artian negatif, melainkan sedang mencari titik keseimbangan baru yang didukung oleh langkah proaktif Bank Indonesia melalui kenaikan suku bunga (BI-Rate) dan penguatan instrumen pasar uang untuk menarik kembali arus modal masuk," ungkapnya.

Sutopo menambahkan, prospek mata uang Asia hingga akhir 2026 akan sangat ditentukan oleh kecepatan penyempitan selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan negara-negara Asia, serta perkembangan stabilitas geopolitik global. Selain itu, kebijakan intervensi bank sentral masing-masing negara juga akan memainkan peran penting dalam menjaga volatilitas nilai tukar.

Untuk proyeksi, Sutopo memperkirakan USD/JPY bergerak pada kisaran 146-164 hingga akhir 2026. Sementara USD/CNY diproyeksikan berada di rentang 6,65-7,05 dan USD/SGD pada kisaran 1,24-1,28.

Adapun untuk rupiah, ia memperkirakan nilai tukar USD/IDR akan berada di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.500 pada akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×