kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Mata Uang Asia Berpeluang Lanjut Menguat pada Semester II 2026, Ini Pemicunya


Jumat, 12 Juni 2026 / 16:27 WIB
Mata Uang Asia Berpeluang Lanjut Menguat pada Semester II 2026, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Vietnam Dong (Safar Asia/VND)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini, seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) dan meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bloomberg, won Korea Selatan (KRW) mencatat, penguatan terbesar dengan kenaikan 2,4% dalam sepekan. Diikuti peso Filipina (PHP) yang menguat 0,6%, rupiah terapresiasi 0,5%, serta dolar Singapura (SGD) yang naik 0,4%.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) melemah dari level 100 pada awal pekan menjadi 99,83 pada akhir pekan.

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Menguat, Pelemahan Dolar AS Jadi Pendorong Utama

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, penguatan mata uang Asia didorong kombinasi faktor teknikal dan fundamental.

Dari sisi teknikal, sejumlah mata uang kawasan sebelumnya telah berada pada kondisi oversold sehingga berpeluang mengalami rebound.

Namun, menurutnya, sentimen utama berasal dari pelemahan dolar AS akibat meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya setelah inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan.

"Ketika indeks dolar melemah, mata uang lain secara otomatis mendapatkan ruang untuk terapresiasi. Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik juga berperan penting," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Ia menambahkan, munculnya narasi de-eskalasi konflik antara AS dan Iran turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk aset dan mata uang di kawasan Asia.

Baca Juga: Rupiah Tembus ke Rp 17.800 Per Dolar AS di Pagi Ini (27/5), Mata Uang Asia Menguat

Ke depan, Wahyu menilai prospek mata uang Asia masih cenderung moderat hingga positif, meski tetap bergantung pada arah kebijakan The Fed.

Menurut dia, apabila The Fed benar-benar memulai siklus penurunan suku bunga pada semester II-2026, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut sehingga menjadi katalis positif bagi mata uang Asia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi Tiongkok masih menjadi faktor yang perlu dicermati.

Pemulihan ekonomi Negeri Panda yang belum sepenuhnya solid berpotensi membatasi penguatan mata uang negara-negara yang memiliki ketergantungan perdagangan tinggi dengan Tiongkok.

Wahyu menilai tren pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS mulai mereda. Walaupun sebagian masih berada dalam tren bearish jangka panjang, peluang rebound dalam jangka menengah tetap terbuka.

Menurutnya, mata uang yang memiliki fundamental ekonomi kuat, seperti didukung surplus neraca perdagangan dan tingkat suku bunga riil yang menarik, berpotensi mencatat penguatan lebih lanjut.

Baca Juga: Dolar AS Kian Perkasa, Mata Uang Asia Diprediksi Masih Melemah

Untuk rupiah, Wahyu melihat peluang penguatan masih terbuka dengan dukungan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang berfokus menjaga stabilitas nilai tukar serta fundamental ekonomi domestik yang relatif solid dibandingkan sejumlah negara sekelas.

Namun, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh aliran modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik, yang sensitif terhadap selisih suku bunga antara BI dan The Fed.

"Fenomena penguatan rupiah yang hanya bertahan singkat setelah kenaikan suku bunga menunjukkan pasar saat ini lebih memperhatikan arah kebijakan global dibandingkan faktor suku bunga domestik semata," kata Wahyu.

Pada semester II-2026, prospek rupiah akan bergantung pada kemampuan BI menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika inflasi global dan domestik.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Variatif, Yen Masih Tertekan Dolar AS

Jika tekanan inflasi global terus mereda dan The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish, rupiah berpotensi bergerak lebih stabil bahkan menguat secara bertahap.

Meski demikian, risiko geopolitik, termasuk potensi eskalasi baru terkait Iran dan ketegangan global lainnya, masih berpotensi memicu volatilitas mendadak di pasar keuangan dan mata uang kawasan.

Wahyu memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.000-Rp 18.500 per dolar AS hingga akhir tahun, dengan kecenderungan berada pada rentang moderat Rp 17.500-Rp 18.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×