kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Tertekan penurunan harga, kinerja emiten batubara melorot di kuartal III 2019


Sabtu, 02 November 2019 / 08:29 WIB
Tertekan penurunan harga, kinerja emiten batubara melorot di kuartal III 2019
ILUSTRASI. Suasana penambangan batubara menggunakan bucket wheel escavator di lokasi penambangan batubara PT. Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (20/5). Beberapa emiten batubara mencatatkan penurunan laba dan pendapatan di kuartal III 2019 seiring

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten pertambangan batubara telah merilis hasil kinerja untuk periode kuartal III 2019. Hasilnya, beberapa emiten mencatatkan penurunan laba dan pendapatan. Bahkan, ada yang mencatatkan kerugian.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA, anggota indeks Kompas100) misalnya, pada kuartal III 2019 labanya anjlok 21,08% menjadi Rp 3,10 triliun. Meski demikian, pendapatan PTBA naik 1,36% menjadi Rp 16,25 triliun.

Baca Juga: IHSG terkoreksi karena investor profit taking, begini prediksinya pekan depan

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Suherman, mengatakan penurunan tersebut disebabkan oleh pelemahan harga batubara Indeks Newcastle (GAR 6322 kkal/kg) pada bulan September sebesar 25% US$ 81,3 per ton dari US$ 108,3 per ton untuk periode yang sama tahun lalu.

Begitu pula dengan indeks harga batubara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI) GAR 5000 yang pada September 2019 melemah 21% menjadi US$ 50,8.

Nasib yang sama dialami oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang labanya tergerus 63% menjadi US$ 76,07 juta. Di saat yang sama, pendapatan BUMI tercatat sebesar US$ 751,85 juta atau turun 8,85%. Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, harga batubara masih menjadi tantangan bagi kinerja BUMI.

“Harga menjadi tantangan karena perang dagang dan dampak negatifnya, dibarengi dengan penundaan izin impor batubara Australia oleh China telah membuat ketidakseimbangan supply dan demand yang tercermin dari jatuhnya benchmark Indeks GCNEWC,” ujar Dileep kepada Kontan.co.id, Jumat (1/11).

Sementara itu, penurunan harga batubara juga menjegal kinerja emiten alat berat, salah satunya PT United Tractors Tbk (UNTR, anggota indeks Kompas100). Per September 2019, volume penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 2.568 unit atau turun 30% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebanyak 3.681 unit.

Baca Juga: BEI membuka kembali perdagangan saham Maha Properti (MPRO) setelah cooling down

Penurunan tersebut disebabkan oleh melemahnya penjualan alat berat dari sektor pertambangan dan perkebunan.

Selain itu, penjualan produk merek lainnya yaitu UD Trucks juga turut mengalami penurunan dari 624 unit menjadi 387 unit. Hal yang sama juga terjadi pada penjualan produk Scania yang turun menjadi 382 unit. Padahal, UNTR berhasil menjual 683 unit Scania pada kuartal III 2018.




TERBARU

Close [X]
×