kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Terkoreksi 16%, Ketidakpastian Geopolitik hingga Inflasi Tekan Harga Bitcoin


Jumat, 29 Mei 2026 / 18:12 WIB
Terkoreksi 16%, Ketidakpastian Geopolitik hingga Inflasi Tekan Harga Bitcoin
ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) telah terkoreksi sekitar 16% secara year to date (ytd). Mengutip Coin Market Cap Jumat (29/5/2026) pukul 17.49 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 4,80% dalam sepekan ke US$ 73.528. Adapun, secara year to date (ytd) harga Bitcoin telah menurun sekitar 16%. 

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, penurunan harga Bitcoin sekitar 16% secara year-to-date (YtD) dalam lima bulan pertama 2026 menurut saya dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik, kondisi makroekonomi global, serta pergeseran aliran dana investasi ke sektor lain yang saat ini dinilai lebih menarik oleh investor. 

Dari sisi geopolitik, salah satu faktor yang paling banyak mempengaruhi sentimen pasar adalah konflik antara Iran dan Israel yang kembali memanas sejak awal tahun. Meskipun saat ini terdapat upaya gencatan senjata, pasar masih melihat risiko eskalasi konflik yang sewaktu-waktu dapat kembali meningkat. 

“Ketidakpastian ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (29/5/2026). 

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Tertekan Aksi Jual Institusi, Investor Diminta Waspada

Fyqieh menambahkan, dampak lain dari konflik tersebut adalah kenaikan harga energi, khususnya minyak. Ketika harga minyak meningkat, tekanan inflasi global ikut naik karena biaya transportasi dan produksi menjadi lebih mahal. Kondisi ini membuat pasar mulai khawatir terhadap risiko perlambatan ekonomi yang disertai inflasi tinggi atau yang sering disebut sebagai stagflasi. 

Dalam situasi seperti itu, daya beli masyarakat cenderung melemah karena biaya hidup meningkat. Investor dan masyarakat pada umumnya menjadi lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana, termasuk untuk investasi berisiko. Akibatnya, minat terhadap aset kripto ikut mengalami penurunan dibanding periode-periode sebelumnya. 

Selain faktor geopolitik dan inflasi, saat ini juga terjadi pergeseran aliran dana global ke sektor yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat. Salah satunya adalah sektor artificial intelligence (AI). Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang AI, cloud computing, data center, dan semikonduktor terus menarik investasi dalam jumlah besar. Banyak investor melihat sektor ini sebagai tema pertumbuhan utama dalam siklus ekonomi saat ini.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Tertekan Aksi Jual Institusi, Investor Diminta Waspada

Adapun, untuk prospek Bitcoin ke depan, Fyqieh melihat potensinya cukup menarik dalam jangka panjang. Salah satu alasan utamanya adalah karakteristik Bitcoin yang memiliki jumlah suplai terbatas atau scarcity. Berbeda dengan mata uang fiat yang dapat terus bertambah melalui kebijakan moneter, jumlah Bitcoin dibatasi hanya 21 juta koin. Faktor kelangkaan inilah yang menjadi salah satu dasar mengapa banyak investor masih melihat Bitcoin memiliki nilai jangka panjang. 

“Namun jika berbicara dalam jangka pendek, kondisinya masih cukup menantang. Secara teknikal maupun sentimen pasar, tekanan terhadap Bitcoin masih relatif besar,” ungkap Fyqieh. 

Menurutnya, saat ini terdapat akumulasi kepemilikan yang cukup signifikan di area sekitar US$72.500 hingga US$76.000. Ketika harga bergerak di bawah area tersebut, sebagian pemegang Bitcoin berada dalam kondisi unrealized loss atau underwater. Kondisi ini perlu diperhatikan karena semakin banyak investor yang berada dalam posisi rugi, semakin besar pula potensi munculnya tekanan jual jangka pendek. 

Sebagian investor biasanya memilih keluar dari posisi mereka ketika harga kembali mendekati titik impas, sehingga dapat menciptakan resistance dan membatasi kenaikan harga dalam waktu dekat. Karena itu, untuk jangka pendek saya melihat area sekitar US$70.000 masih menjadi level yang perlu dicermati oleh pelaku pasar. 

“Selama tekanan makroekonomi dan geopolitik belum mereda, volatilitas Bitcoin kemungkinan masih akan tetap tinggi,” terang Fyqieh. 

Baca Juga: Saat Inflasi AS Meledak dan Nasdaq Terkoreksi, Bitcoin Makin Dilirik Investor

Sementara untuk jangka menengah, apabila kondisi global mulai lebih stabil dan arus dana kembali masuk ke aset berisiko, Fyqieh menilai Bitcoin memiliki peluang untuk kembali bergerak ke area US$80.000. Namun pergerakan tersebut tetap akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga, kondisi geopolitik, serta aliran dana institusional ke pasar kripto. 

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian mengatakan, dorongan terhadap Clarity Act di Senat Amerika Serikat dipandang sebagai perkembangan positif bagi industri aset kripto global karena memberikan sinyal semakin kuatnya arah regulasi yang semakin jelas dan terstruktur. Selama ini, tantangan terbesar industri kripto di AS adalah ketidakpastian terkait klasifikasi aset digital dan pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). 

“Jika nantinya disahkan penuh, regulasi ini berpotensi memberikan legal clarity terhadap perdagangan aset digital, penerbitan token, hingga pengawasan terhadap protokol DeFi,” ucap Dian. 

Menurutnya, kepastian regulasi seperti ini penting untuk meningkatkan kepercayaan investor institusi dan pelaku industri. Dari perspektif global, kebijakan AS juga sering menjadi acuan bagi banyak negara lain. Karena itu, perkembangan ini dinilai dapat memperkuat legitimasi industri kripto sekaligus membuka peluang pertumbuhan sektor seperti tokenized assets, stablecoin infrastructure, dan institutional DeFi. 

“Meski begitu, pasar masih akan mencermati implementasi teknisnya, terutama terkait stablecoin, perpajakan, dan standar pengawasan DeFi ke depan,” ujar Dian.

Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 78.000, Risiko Koreksi ke US$ 70.000 Masih Terbuka

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×