kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Tensi Geopolitik Kerek Harga Minyak, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel


Jumat, 30 Oktober 2026 / 16:10 WIB
Tensi Geopolitik Kerek Harga Minyak, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Christian Hartmann)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sentimen utama yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Ancaman gangguan distribusi energi melalui jalur perdagangan strategis membuat pasar minyak dibayangi risiko pasokan, sekaligus meningkatkan volatilitas harga hingga akhir 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$ 103,77 per barel, naik 1,70%. Sementara itu, harga minyak mentah Brent berada di level US$ 117,08 per barel, menguat 2,20% atau 1,92%.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai, gejolak geopolitik saat ini tidak lagi sekadar menjadi sentimen jangka pendek, tetapi telah berkembang menjadi faktor utama yang memengaruhi tren harga komoditas energi.

Kekhawatiran terhadap pasokan tersebut turut membentuk premi risiko dalam struktur harga minyak. Goldman Sachs memperkirakan sekitar seperlima dari harga Brent saat ini, atau sedikit di atas US$ 20 per barel, berasal dari kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan akibat konflik yang berkepanjangan.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,80% ke 5.057 pada Jumat (30/10/2026), BRPT, CUAN, ISAT Top Losers LQ45

Menurut Sutopo, posisi perairan Asia Barat sangat strategis bagi perdagangan energi global. Kondisi tersebut membuat eskalasi konflik, sekecil apa pun, berpotensi langsung mengguncang keseimbangan pasar minyak dunia.

"Mengingat Selat Hormuz memfasilitasi pengangkutan sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia, setiap berita mengenai serangan, peringatan dari Trump, atau perkembangan terkait serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi dapat memicu pergerakan harga yang cepat," terang Sutopo kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi berpotensi menjadi faktor yang menahan kenaikan harga minyak. Salah satunya adalah laporan mengenai usulan pembicaraan damai yang disampaikan Wakil Presiden Vance.

Sutopo menjelaskan, keberhasilan diplomasi dapat mengurangi premi risiko yang selama ini melekat pada harga minyak mentah dunia. Sebaliknya, kegagalan negosiasi dan berlanjutnya konflik berpotensi kembali mendorong harga energi ke level yang lebih tinggi.

"Jika dialog tersebut berhasil, premi risiko ini dapat menyusut dengan cepat; namun, jika permusuhan terus berlanjut, harga bisa kembali melonjak," ungkap Sutopo.

Baca Juga: Binance Ungkap Penyebab Awal Peretasan, Diduga Lewat Laptop Karyawan

Dengan demikian, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu mendatang akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi diplomatik, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Adapun di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut, proyeksi harga minyak mentah dunia hingga penghujung 2026 masih menunjukkan rentang pergerakan yang cukup lebar.

Sutopo memperkirakan harga minyak Brent berpotensi bergerak dalam kisaran US$ 90 hingga lebih dari US$ 120 per barel hingga akhir 2026. Sementara itu, harga minyak WTI diproyeksikan berada di sekitar US$ 81 hingga melampaui US$ 105 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×