Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Harga tembaga melanjutkan rally kenaikan memasuki hari kedua. Hal ini terdorong oleh penurunan produksi salah satu negara produsen tembaga terbesar.
Mengutip Bloomberg, Rabu (2/3) pukul 10.58 WIB harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melesat 1,03% ke level US$ 4.765 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga ini pun sudah terbang 2,64% dalam sepekan terakhir.
Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures mengatakan faktor penurunan produksi yang dicatatkan Chile pada Januari 2016 menjadi 453.000 ton mendukung kenaikan harga tembaga.
Di tengahnya dugaan keringnya permintaan tembaga, hal ini memberikan angin segar pada harga. “Stimulus yang siap digelontorkan pemerintah China sebesar US$ 100 miliar juga dukung harapan naiknya permintaan dari sisi manufaktur dan industri,” kata Andri.
Jika geliat aktivitas manufaktur dan industri China meningkat, tentunya permintaan akan kembali tinggi dan bisa menyelamatkan harga.
Namun bukan berarti harga tembaga aman dari ancaman koreksi. “Data manufaktur China dan Eropa masih mengecewakan,” ujar Andri.
Itu artinya belum akan ada kenaikan permintaan di pasar global dalam waktu dekat. Kenaikan harga saat ini dinilai hanya akan terbatas dalam rentang yang terbatas.
Kemarin, data manufaktur PMI China Februari 2016 menukik dari 49,4 ke level 49,0. Lalu Caixin manufaktur China periode yang sama pun turun dari 48,4 ke level 48,0. Sedangkan manufaktur Italia dan Spanyol masih memburuk. Yang sedikit membaik hanya manufaktur Jerman yang naik tipis dari 50,2 ke level 50,5.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













