kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Tak menguat banyak pasca pemangkasan bunga acuan, rupiah perlu waspada sentimen lain


Kamis, 19 September 2019 / 17:33 WIB

Tak menguat banyak pasca pemangkasan bunga acuan, rupiah perlu waspada sentimen lain
ILUSTRASI. Pasokan uang rupiah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dini hari pagi tadi, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin. Penurunan suku bunga ini diikuti juga oleh bank sentral Indonesia Bank Indonesia (BI) yang juga menurunkan suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Pemangkasan suku bunga oleh kedua bank sentral ini berdampak pada rupiah yang ditutup menguat tipis 0,05% menjadi Rp 14.060 per dolar AS.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan dampak dari pemangkasan suku bunga ini tak begitu besar bagi pergerakan rupiah. Pasalnya, pemangkasan suku bunga acauan ini telah diprediksi oleh pelaku pasar jauh-jauh haru sehingga sudah diantisipasi oleh pasar. “Dampaknya tidak besar, harga sudah priced in,” ujar Reny.

Reny bilang posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai masih kompetitif. Ia bilang level ini masih aman dan kuat bagi rupiah karena sesuai dengan kondisi fundamentalnya ekonomi saat ini. “Masih kompetitif juga terhadap ekspor,” ujar Reny.

Baca Juga: Investor sudah perhitungkan pemangkasan suku bunga acuan BI, rupiah menguat tipis

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Bahkan, ia bilang pemangkasan suku bunga ini tak berpengaruh bagi pergerakan rupiah. “Dampaknya bagi ke rupiah tidak kemana-mana,” ucap Josua.

Menurut Reny, saat ini yang perlu diperhatikan ialah situasi terbaru dari perang dagang antara AS dan China. 

Ia mengatakan Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu memutuskan untuk menangguhkan rencana kenaikan tarif impor baru bagi China sampai Oktober. “Kita tunggu saja sampai Oktober, apakah Trump akan mengenakan tarif barunya atau tidak jadi melakukan rencana tersebut,” jelas Reny.

Josua juga mengingatkan bahwa sentimen perang dagang perlu diperhatikan karena termasuk sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah. 
Ia bilang perang dagang ini belum berakhir. Rencananya pada Oktober, pejabat AS dan China akan melanjutkan negosiasi dagangnya. 

“Kalau tidak ada negosiasi atau hasil yang final tentunya tarif akan tetap berlaku dan dampaknya akan memperlambat pertumbuhan global,” jelas Josua.


Reporter: Adrianus Octaviano
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×