kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Suplai sukuk negara berkurang, pasar obligasi tetap stabil


Senin, 27 Januari 2020 / 22:00 WIB
Suplai sukuk negara berkurang, pasar obligasi tetap stabil
ILUSTRASI. Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara.

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi dan kinerja reksadana pendapatan tetap syariah tidak terpengaruh oleh berkurangnya suplai Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk negara. 

Suplai sukuk berpotensi menurun karena di tahun ini pemerintah akan mengurangi alokasi pembiayaan proyek infrastruktur melalui penerbitan SBSN. Alokasi anggaran utang syariah untuk tahun ini jadi lebih kecil di Rp 27,35 triliun dari Rp 28,34 triliun di tahun lalu. Padahal, sejak 2013 tren pembiayaan melalui SBSN selalu naik setiap tahunnya. 

Analis Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan berkurangnya suplai SBSN tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan yield dan harga sukuk. Pengurangan suplai SBSN tidak berpengaruh karena porsi pasar sukuk negara masih lebih rendah dibanding pasar obligasi konvensional. 

Baca Juga: Kemenkeu merilis aturan dealer utama untuk perdagangan sukuk negara

Sekadar informasi, saat ini Indonesia Sukuk Index Total Return yang menggambarkan kinerja pasar obligasi syariah tercatat naik 15,32% secara year on year per Senin (27/1). 

"Pengurangan sukuk akan diimbangi dengan peningkatan suplai surat utang konvensional," kata Roby, Senin (27/1). 

Permintaan akan sukuk negara yang cenderung terbatas juga membuat pengurangan suplai sukuk jadi tidak berpengaruh signifikan ke pasar obligasi secara keseluruhan. 

Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan kinerja reksadana pendapatan tetap syariah yang memiliki aset dasar surat utang syariah pun tetap bisa tumbuh. 

"Jika suplai SBSN turun, reksadana pendapatan tetap syariah masih bisa mengoleksi sukuk korporasi," kata Wawan. 

Begitu pun reksadana terproteksi biasanya lebih sering mengoleksi sukuk korporasi daripada SBSN.

Di sisi lain, Wawan memproyeksikan reksadana pendapatan tetap syariah masih menarik di tahun ini. Sentimen positif berasal dari suku bunga BI seven days reverse repo rate yang masih berpotensi turun. 

Kemungkinan suku bunga rendah masih akan berlanjut Wawan lihat terbukti dari kupon Saving Bond Ritel seri SBR009 yang juga menurun ke 6,3%. Selain itu, bunga penjaminan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) juga turun ke 6%. 

Baca Juga: Atur soal dealer utama SBSN, Kemenkeu: Untuk perbaiki likuiditas sukuk negara

Hanya saja, tantangan bagi reksadana pendapatan tetap justru semakin berat di 2021 karena insentif pajak kembali naik dengan tingkat pajak yang lebih tinggi ke 15% dari 5% di saat ini. 

"Kemungkinan industri reksadana akan meminta insentif kembali ke pemerintah, jika pemerintah tidak menyetujui maka bisa mengurangi minat investor ke reksadana pendapatan tetap," kata Wawan. 


Tag


TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×