kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Rupiah Berpotensi Volatile Pekan Depan, Cermati Sentimennya


Sabtu, 07 Maret 2026 / 13:30 WIB
Rupiah Berpotensi Volatile Pekan Depan, Cermati Sentimennya


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,12% ke level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026). Dalam sepekan, rupiah melemah 0,82% disbanding Jumat (27/2/2026) yang ada di level Rp 16.787 per dolar AS.

Untuk pekan depan, pergerakan rupiah diprediksi masih akan volatile. 

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut langkah lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.dari Fitch menjadi perhatian khusus pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan salah satu upaya yang sedang didorong untuk mengerek penerimaan bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan alias Coretax.

Baca Juga: Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bukukan Penurunan Pendapatan dan Laba Bersih pada 2025

“Pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch,” jelasnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah dalam sepekan ke depan akan bergerak di retang Rp 16.850 hingga Rp 17.100 per dolar AS.

Sekadar mereview, Ibrahim menyebut selama sepekan terakhir pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar.

Dari sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian di pasar global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda.

Menurut Ibrahim, meningkatnya serangan rudal dan aksi balasan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global. Kondisi ini membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir, pernyataan yang menggarisbawahi meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan politik kawasan tersebut,” jelas Ibrahim Jumat (6/3/2026).

Baca Juga: Raih Pendapatan US$ 3,9 Miliar, Simak Capaian Operasional PGN (PGAS) pada 2025

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari keputusan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Salah satu pertimbangan Fitch adalah rendahnya rasio pajak Indonesia yang masih berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam satu dekade terakhir. Bahkan pada 2025, tax ratio turun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31%.

Fitch juga memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya sekitar 13,3% pada periode 2026-2027, jauh di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 25,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×