kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Sulit bangkit, harga CPO berpotensi di bawah RM 2.000


Jumat, 19 April 2019 / 12:15 WIB


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga minyak sawit mentah (CPO) tahun ini diprediksi masih loyo. Pasca terganjal kebijakan impor dari Uni Eropa, kini lembaga rating RAM Rating ikut memangkas proyeksi harga CPO untuk 2019.

Dalam keterangan yang dirilis Senin (15/4), RAM Ratings umumkan penurunan proyeksi harga CPO 2019, dari sebelumnya berada di rentang RM 2.300 - RM 2.500, menjadi RM 2.200 - RM 2.400 rata-rata per ton.

"Itu wajar, bahkan kalau saya memprediksi masih bisa ke area RM 2.000 per ton," kata Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono kepada Kontan, Rabu (17/4).

Menurutnya, tren harga CPO tahun ini cenderung masih lemah. Baik dilihat secara teknikal maupun dari sisi fundamental.

Untuk kuartal II-2019, Wahyu memprediksi harga CPO akan berada di kisaran RM 1.900 - RM 2.300 per ton. Melihat kondisi fundamental yang cenderul lemah, maka harapan penguatan harga saat ini cenderung lebih kepada sisi teknikal level oversold.

"Sepertinya, CPO akan mendapat support rebound, mendekati atau di bawah RM 2.000 per ton. Konsolidasi juga bisa terjadi di atas itu, dengan frekuensi level RM 2.100," jelasnya.

Dia menjelaskan, saat ini sentimen negatif lebih banyak menekan harga CPO, pasca sempat memuncak ke level RM 3.594 di Februari 2017. Isu mengenai supply yang melimpah, karena musim tahun ini cukup mendukung produksi CPO.

Selain itu, ada pula isu yang datang dari China terkait ancaman pelambatan pertumbuhan ekonomi serta perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Adapula isu lingkungan terkait kebijakan Uni Eropa, terkait kampanye negatif, serta sentimen penguatan dollar AS.

"CPO memang belum bisa bangkit dari keterpurukan. Alasan bangkitnya pun hanya karena oversold, di mana harga terlalu murah dan memicu spekulatif buying di sekitar RM 2.000 per ton. Saat ini sulit mendapat atau mencari sentimen positif," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×