kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Suku Bunga Diprediksi Turun, Bagaimana Prospek Obligasi Korporasi di 2024?


Kamis, 30 November 2023 / 18:34 WIB
Suku Bunga Diprediksi Turun, Bagaimana Prospek Obligasi Korporasi di 2024?
ILUSTRASI. Potensi pemangkasan suku bunga acuan pada tahun 2024 akan berefek positif terhadap penerbitan obligasi korporasi.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi pemangkasan suku bunga acuan pada tahun 2024 akan berefek positif terhadap penerbitan obligasi korporasi. Analis Fixed Income Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan menilai, perusahaan akan lebih tertarik untuk menerbitkan obligasi korporasi karena penurunan cost of fund serta iklim ekonomi yang lebih jelas untuk ekspansi usaha. 

Sebagaimana diketahui, penurunan suku bunga akan berdampak pada penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN). Nah, kupon obligasi korporasi cenderung mengikuti benchmark SBN. Penurunan yield ditambah spread akan membuat kupon obligasi korporasi lebih rendah dari saat ini sehingga mengurangi cost of fund perusahaan. 

Alvaro melihat, langkah investor saat ini cenderung lebih risk averse alias menghindari risiko. Investor juga menunggu hasil Pemilu 2024 sebagai salah satu pertimbangan investasinya agar mendapat kejelasan mengenai arah kebijakan ekonomi. 

Apabila hasil Pemilu sudah diumumkan, investor diharapkan akan lebih agresif dalam menyalurkan investasinya, termasuk di obligasi korporasi. Perusahaan juga cenderung menahan langkah ekspansi sebelum hasil Pemilu keluar.

Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Terbitkan Obligasi Rp 2,09 Triliun, Intip Tawaran Bunganya

Dari segi permintaan, prospek inflasi domestik yang diprediksi stabil dalam rentang target Bank Indonesia serta pandangan makro yang mengarah pada konsensus penurunan suku bunga bank sentral akan mengembalikan minat pasar terhadap obligasi korporasi. Investor akan kembali mengincar obligasi korporasi, terutama yang punya peringkat investment grade dan fundamental sehat.

Selain itu, perusahaan penerbit obligasi harus mempunyai perolehan arus kas yang stabil dan kuat, serta balance sheet yang sehat. "Obligasi sektor keuangan, telekomunikasi, pulp & paper, dan consumer goods merupakan sektor yang memiliki resiliensi yang kuat terhadap kondisi ekonomi yang bergejolak," tutur Alvaro saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (30/11). 

Secara internal, Sucorinvest Asset Management memprediksi, yield SBN tenor 10 tahun pada tahun 2024 akan berada di kisaran 6,2%-6,4%. Obligasi korporasi biasanya menggunakan yield SBN sebagai acuan, tetapi kupon yang diberikan akan tergantung pada spread rating dan tenor. 

Baca Juga: Suku Bunga Acuan BI Naik Jadi 6%, Permintaan Properti Dinilai Masih Stabil

Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi memprediksi, penerbitan obligasi korporasi baru akan ramai di semester 2 2024. Para perusahaan akan menunggu keputusan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia maupun The Fed terlebih dahulu. "Dengan begitu, penerbitan obligasi korporasi di semester 1 2024 lebih diutamakan untuk kebutuhan refinancing yang mendesak," ucap Lionel. 

Dari segi permintaan, ia melihat, obligasi korporasi akan tetap diminati banyak investor, terutama tenor 3 tahun. Pasalnya, tenor tersebut memiliki selisih yang atraktif dibandingkan yield obligasi tenor 10 tahun maupun suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yakni sekitar 40 bps-60 bps. 

Lionel memprediksi, kisaran kupon obligasi korporasi tahun 2024 untuk sektor bank dan finansial berada di 6,5%-7%, sementara konstruksi dan manufaktur di 9,5%-11,5%. Kemudian, untuk obligasi pemerintah, kupon seri acuan diperkirakan masih berkisar di 6%-7%.

Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menambahkan, risiko geopolitik yang berlanjut dan kecenderungan investor memegang tunai bisa memengaruhi permintaan di pasar obligasi. Investor akan lebih berhati-hati dalam mengambil risiko dan mencari instrumen yang lebih likuid.

Baca Juga: The Fed Kirim Sinyal Dovish, Pasar US Treasury Bullish

Menurutnya, obligasi korporasi mungkin akan kurang diminati dibandingkan dengan SBN atau deposito karena obligasi korporasi memiliki risiko kredit dan likuiditas yang lebih tinggi. "Namun, hal ini juga tergantung pada preferensi dan profil risiko masing-masing investor," ucap Reza. 

Reza menyampaikan ada tiga faktor pendorong yang akan meningkatkan permintaan investor terhadap obligasi korporasi di tahun 2024. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik akan meningkatkan kinerja dan kredibilitas emiten, serta menurunkan risiko gagal bayar.

Kedua, peningkatan kesadaran dan minat terhadap instrumen keuangan berkelanjutan, seperti obligasi hijau, sosial, dan berdampak akan mendorong emiten untuk menerbitkan obligasi dengan tema tersebut. Ketiga, kebutuhan refinancing emiten akan meningkatkan pasokan obligasi korporasi di pasar dan memberikan peluang bagi investor untuk memilih obligasi dengan kupon dan tenor yang sesuai.

Menurutnya, obligasi korporasi yang menarik dilirik adalah obligasi yang memiliki kupon kompetitif, peringkat yang baik, dan likuiditas tinggi. Selain itu, obligasi yang memiliki tema keuangan berkelanjutan juga bisa menjadi pilihan karena obligasi tersebut tidak hanya memberikan imbal hasil finansial, tetapi juga manfaat sosial dan lingkungan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×