kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.946.000   102.000   3,59%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Stimulus The Fed Angkat Harga, Komoditas Ini Jadi Primadona


Rabu, 04 Februari 2026 / 18:05 WIB
Stimulus The Fed Angkat Harga, Komoditas Ini Jadi Primadona
ILUSTRASI. Pemangkasan produksi nikel 2026 (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah aset komoditas mencatatkan penguatan sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026, seiring dengan perubahan peta kekuatan aset global yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika sektor komoditas.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai, kenaikan harga berbagai aset komoditas global muncul akibat tren The Federal Reserve (The Fed).

"Secara umum, banyak aset menguat sejak tahun lalu. Faktor fundamental terutama jelas dari The Fed, dengan kecenderungan stimulus dan pemotongan suku bunga," ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Draft Aturan Baru BEI: Syarat IPO Diperketat, Biaya dan Free Float Disesuaikan

Di awal tahun 2026, Wahyu melihat terjadi pergeseran menarik pada peta kekuatan aset investasi. 

Sejumlah sektor yang sempat tertekan sepanjang 2024 - 2025 mulai menunjukkan kebangkitan, sementara sektor yang bersifat defensif tetap kokoh berkat dukungan kebijakan moneter yang longgar.

Dari sektor industri logam, Wahyu menemukan kebangkitan harga nikel setelah melalui fase koreksi panjang akibat kelebihan pasokan. 

Harga nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat naik ke kisaran US$ 17.000 - US$ 18.000 per ton pada Januari 2026.

Menurutnya, rebound harga nikel ini didorong oleh langkah pemerintah Indonesia yang menyesuaikan kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 250 juta–260 juta ton, turun signifikan dari target 379 juta ton pada tahun 2025. 

Kebijakan tersebut dinilai berhasil mengurangi tekanan kelebihan pasokan di pasar global. Selain itu, meningkatnya operasional smelter High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) kelas satu turut menciptakan permintaan baru yang lebih stabil terhadap nikel.

Baca Juga: BRPT Siapkan Dana Hingga Rp 1 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Tujuannya

Sementara itu, sektor logam mulia masih menjadi primadona di tengah-tengah global. 

Emas (XAU) mencetak rekor tertinggi baru di ataa US$ 5.000 per ons troi, ditopang oleh penurunan imbal hasil obligasi AS yang meningkatkan daya tarik aset tanpa bunga tersebut.

“Emas tetap kuat karena imbal hasil obligasi AS turun, sehingga aset safe haven seperti emas menjadi lebih menarik,” jelas Wahyu.

Perak juga menguat lebih agresif dibandingkan emas, dengan kenaikan sekitar 26% YtD jadi US$ 90.000 per ons troi. Penguatan ini tidak hanya didorong oleh fungsi perak sebagai aset perlindungan nilai, tetapi juga oleh permintaan industri, khususnya untuk panel surya.

Di sektor teknologi dan energi hijau, Wahyu mencatat penguatan signifikan pada litium dan tembaga. 

Lithium naik 35% menjadi CNY 160.500 per ton, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyerap daya listrik besar serta penggunaan tembaga dalam pembangunan jaringan energi. 

Timah pun tercatat bertahan kuat di atas US$ 30.000 per ton, didukung oleh gangguan pasokan dari Myanmar dan pengetatan ekspor Indonesia, di tengah meningkatnya permintaan solder untuk industri elektronik.

Meski begitu, tidak semua komoditas menikmati tren penguatan. Wahyu menilai harga minyak mentah WTI masih bergerak lemah di kisaran US$ 60-an per barel, akibat surplus produksi dari negara non-OPEC seperti Amerika Serikat dan Guyana.

Baca Juga: Draft Aturan Baru BEI: Syarat IPO Diperketat, Biaya dan Free Float Disesuaikan

Selain itu, harga batubara juga mengalami tren penurunan secara struktural menjadi US$ 116 per ton. 

Meskipun permintaan masih ada, pergeseran energi global terbarukan serta peningkatan produksi domestik di Tiongkok dan India terus menekan harga jual batubara di pasar global.

Selanjutnya: CUAN Gelar Buyback Saham Hingga Rp 750 Miliar, Ini Tujuan dan Periode Pelaksanaannya

Menarik Dibaca: Dorong Inovasi Sejak Dini, Sampoerna Academy Gelar Rangkaian STEAM 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×