Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Stimulus ekonomi pemerintah sekitar Rp 31 triliun yang akan digelontorkan pada kuartal IV-2026 berpotensi menjaga daya beli masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat menjadi katalis bagi sejumlah saham sektor consumer dan ritel.
Pemerintah menyiapkan sejumlah program untuk menopang konsumsi masyarakat hingga akhir tahun. Stimulus tersebut antara lain berupa bantuan pangan dan Bantuan Subsidi Upah (BSU).
Bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan akan diberikan selama tiga bulan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dari kelompok desil 1 hingga desil 4. Program ini memiliki alokasi anggaran sekitar Rp 17,5 triliun.
Sementara itu, BSU sebesar Rp 300.000 per bulan akan disalurkan selama tiga bulan kepada sekitar 13,3 juta pekerja. Anggaran yang disiapkan untuk program tersebut mencapai hampir Rp 12 triliun.
Pemerintah juga tengah menyiapkan program pembukaan rekening bagi warga negara Indonesia berusia lebih dari 17 tahun. Program tersebut juga menyasar masyarakat pada kelompok desil 1 hingga desil 4. Namun, kebutuhan anggaran serta mekanisme pelaksanaannya masih dalam pembahasan.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan, stimulus tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur terhadap konsumsi masyarakat.
"BSU memberikan tambahan disposable income bagi pekerja, sementara bantuan pangan dapat mengurangi sebagian pengeluaran kebutuhan pokok, sehingga masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk melakukan konsumsi lainnya," ujar Ekky kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Meski demikian, Ekky menilai dampak stimulus terhadap kinerja emiten kemungkinan masih moderat. Menurutnya, stimulus lebih berperan dalam menjaga daya beli dan mempertahankan momentum konsumsi dibandingkan menciptakan lonjakan konsumsi secara signifikan.
Baca Juga: DOOH Siapkan Empat Aksi Korporasi, Akuisisi INET Rp 2 Triliun
Saham Consumer dan Ritel yang Berpotensi Terdampak
Ekky menilai dampak paling cepat berpotensi dirasakan emiten consumer staples dan ritel yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, efek terhadap sektor consumer discretionary tetap terbuka, tetapi diperkirakan lebih terbatas.
Di sektor ritel, Ekky melihat PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan daya beli masyarakat.
Kedua perusahaan memiliki jaringan gerai yang luas serta menjual berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Tambahan daya beli masyarakat berpotensi menjaga frekuensi transaksi sekaligus nilai rata-rata belanja konsumen.
Untuk sektor consumer staples, Ekky menyebut PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) sebagai emiten yang menarik diperhatikan.
Ketiganya memiliki portofolio produk kebutuhan sehari-hari, merek yang kuat serta jaringan distribusi yang luas. Dengan karakteristik tersebut, perbaikan konsumsi masyarakat berpotensi lebih cepat tercermin pada penjualan.
Program pembukaan rekening bagi masyarakat desil 1 hingga desil 4 juga berpotensi meningkatkan inklusi keuangan dan aktivitas transaksi perbankan.
Namun, Ekky mengatakan investor masih perlu menunggu kejelasan mengenai mekanisme program tersebut, termasuk bank yang akan terlibat. Dengan demikian, belum dapat ditentukan emiten perbankan mana yang akan mendapatkan manfaat paling besar.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Asing Terus Keluar Saat Short Selling Mulai Berlaku 1 Oktober 2026
Investor Perlu Perhatikan Fundamental
Meski stimulus menjadi katalis positif, Ekky mengingatkan investor agar tidak menjadikan kebijakan tersebut sebagai satu-satunya alasan untuk membeli saham.
Menurut dia, stimulus sebaiknya diposisikan sebagai katalis tambahan. Investor tetap perlu memperhatikan fundamental perusahaan, valuasi serta kemampuan emiten dalam mempertahankan margin.
"Investor juga perlu melihat apakah stimulus benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan volume penjualan. Sebab tantangan sektor consumer masih ada, seperti daya beli yang belum sepenuhnya kuat, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor, serta potensi kenaikan biaya logistik," jelas Ekky.
Karena itu, strategi akumulasi secara bertahap pada emiten dengan fundamental kuat dan valuasi yang menarik dinilai lebih relevan dibandingkan mengejar saham yang telah mengalami kenaikan signifikan hanya karena sentimen stimulus.
Tonton: RESHUFFLE KABINET, KAPOLRI DAN MENLU DIGANTI
Rekomendasi Saham ICBP, AMRT dan MYOR
Dari sejumlah saham consumer dan ritel, Ekky masih memilih ICBP sebagai salah satu pilihan utama.
ICBP dinilai memiliki karakter bisnis yang defensif dengan pertumbuhan operasional yang masih terjaga. Perusahaan juga didukung pricing power dan jaringan distribusi yang luas.
Ekky memberikan target harga ICBP di kisaran Rp 9.500-Rp 10.500.
Selain ICBP, AMRT juga dinilai menarik karena memiliki eksposur langsung terhadap konsumsi masyarakat melalui jaringan gerai yang luas. Target harga AMRT berada di sekitar Rp 2.100.
Sementara itu, MYOR dinilai memiliki prospek yang didukung perbaikan margin serta tingginya eksposur terhadap produk konsumsi harian. Target harga MYOR berada di kisaran Rp 2.700-Rp 2.850.
"Secara keseluruhan kami melihat stimulus pemerintah ini positif untuk sektor consumer, tetapi belum cukup untuk menjadi game changer. Dampak utamanya lebih kepada menjaga daya beli dan momentum konsumsi pada kuartal IV, sehingga emiten dengan produk kebutuhan harian, distribusi luas dan fundamental yang kuat menurut kami menjadi beneficiary yang paling menarik," kata Ekky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














